TULUNGAGUNG – Di tengah riuhnya peserta RaTu Film Festival (RFF) 2025, tim Lumatales hadir dengan semangat baru dan kisah di balik layar yang penuh warna.
Tim yang diwakili oleh M. Akbar Rosyid ini menjadi salah satu peserta yang memilih jalur karya animasi.
Meski bidang animasi ini menuntut kesabaran, ketelatenan, dan kreativitas tingkat tinggi.
Akbar bercerita, proses produksi film mereka tidak hanya penuh kerja keras, tetapi juga tawa dan kejutan tak terduga.
“Banyak banget hal lucu pas prosesnya. Kadang animasi error malah jadi lucu sendiri. Pernah juga file sempat hilang dan kami panik, tapi akhirnya bisa diselamatkan,” kenangnya sambil tertawa.
Meski diwarnai insiden kecil, pengalaman itu justru mempererat kerja sama antaranggota tim.
Antusiasme Lumatales tetap menyala meski dihadang berbagai tantangan teknis.
“Masih semangat banget. Walau sering lembur dan laptop panas, tapi lihat hasilnya mulai jadi tuh rasanya puas banget,” ujar Akbar.
Proses panjang dan melelahkan dalam pembuatan animasi justru menjadi ruang belajar yang berharga bagi tim muda ini.
Tantangan utama mereka, lanjut Akbar, terletak pada manajemen waktu dan keterbatasan alat.
“Bikin animasi tuh lama banget, jadi harus sabar dan telaten. Kadang laptop nge-lag pas render juga bikin gemas,” katanya dengan nada santai.
Namun, di balik segala keterbatasan, Lumatales berhasil membuktikan bahwa tekad dan semangat belajar mampu menembus batas teknis.
Tentang tema RFF 2025, “Car(e)nifall: Merayakan (tidak) Hilangnya Kepedulian”, menurut Akbar menjadi inspirasi tersendiri bagi timnya. Dia menilai tema tersebut sangat keren.
Tema ini mengajak mereka untuk tidak hanya fokus pada aspek visual animasi, tetapi juga pada makna yang ingin disampaikan.
"Bikin kami mikir lebih dalam dan nyari cara biar ceritanya tetap ringan tapi tetap nyampe pesannya,” tuturnya.
Sebagai pendatang baru di RFF, tim Lumatales menganggap ajang ini sebagai langkah awal perjalanan mereka di dunia film.
“Kami pengin coba hal baru dan lihat sampai mana kemampuan tim kami. Sekalian nambah pengalaman juga, siapa tahu bisa jadi langkah awal buat bikin karya yang lebih besar nanti,” kata Akbar penuh optimistis.
Melalui karya perdananya, Lumatales ingin mengingatkan bahwa setiap proses memiliki nilai.
“Kami ingin ngasih pesan kalau hal kecil pun bisa punya arti besar. Kadang proses yang panjang dan capek justru bikin kita lebih menghargai hasil akhirnya,” pungkasnya.(sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri