RADAR TULUNGAGUNG - Pernahkah kamu berjalan di jalanan Tulungagung beberapa tahun lalu? Suara “kring… kring…” dari klakson becak pasti jadi irama khas yang tak pernah absen.
Suara sederhana itu bukan hanya penanda kendaraan lewat, tapi juga semacam “nada kota” yang menempel dalam ingatan warganya.
Baca Juga: Becak Motor Modifikasi Tulungagung, Kreativitas Jalanan yang Jadi Ikon Lokal
Kini, bunyi itu semakin jarang terdengar. Becak yang dulu berjajar di pinggir jalan, menunggu penumpang dengan sabar, perlahan mulai kalah oleh motor dan transportasi modern.
Klakson manual khas becak pun ikut redup, tergeser oleh deru knalpot dan suara klakson kendaraan bermesin.
Baca Juga: Becak Tulungagung Masih Jalan Cerita Penarik yang Tak Pernah Pindah Haluan
Bagi sebagian orang, hilangnya bunyi klakson becak bukan hanya soal kendaraan yang berkurang. Ada rasa rindu pada suasana kota yang lebih tenang, ramah, dan penuh interaksi hangat.
Penumpang yang naik becak bisa bercakap santai dengan tukangnya, sambil menikmati pelan-pelan pemandangan kota.
Baca Juga: Becak Masih Eksis di Tulungagung Pelan Tapi Bikin Kangen
Sekarang, becak memang masih ada, tapi jumlahnya jauh berkurang. Klaksonnya yang unik pun makin jarang terdengar, seperti kenangan masa lalu yang tersisa samar di sudut-sudut jalan Tulungagung.
Mungkin suatu hari nanti, suara itu hanya tinggal cerita yang diceritakan orang tua kepada anaknya bahwa dulu, kota ini punya musik khasnya sendiri bunyi klakson becak yang sederhana tapi penuh makna. ****
Editor : Dharaka R. Perdana