RADAR TULUNGAGUNG – Setelah bertahun-tahun vakum, dentuman gendang dan semangat naga berlenggok di jalanan kembali menggema di Tulungagung.
Adalah seorang pemuda asal Dusun Jati, Desa Bendiljati Kulon, Kecamatan Sumbergempol, Dian Oktaviantoro, yang berhasil membangkitkan lagi semarak Leang Leong, kesenian tradisional khas tulungagung bagian timur yang sempat nyaris hilang dari karnaval dan pentas budaya Tulungagung.
Budaya Leang Leong yang memadukan tari, atraksi, dan musik khas naga serta barongsai ala lokal dulu menjadi daya tarik di berbagai acara desa.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, penampilannya mulai jarang ditemui. Kecintaan masyarakat terhadap budaya modern dan hiburan digital membuat tradisi ini perlahan tenggelam dalam ingatan. Dian merasa prihatin dan tergerak untuk bertindak.
“Saya dulu pernah bikin Leang Leong tahun 2013, awalnya cuma iseng karena waktu itu lagi ramai juga,” tutur Dian.
“Tapi tahun 2025 ini beda, saya bikin lagi karena sekarang sudah di rumah dan lihat karnaval sudah jarang ada Leang Leong. Akhirnya saya buat konten TikTok tutorial bikin Leang Leong, dan ternyata banyak yang tertarik nanya. Dari situ mulai ramai dan akhirnya seramai ini, Mas,” jelasnya penuh semangat.
Baca Juga: Catat Tanggal Mainnya, Nogo Bawono Siap Hidupkan Lagi Tradisi Leang-Leong di Tulungagung
Apa yang awalnya hanya konten TikTok ternyata menjadi awal dari kebangkitan budaya lokal. Video tutorial yang dibuat Dian Oktaviantoro menembus ribuan penonton.
Komentar-komentar yang masuk bukan sekadar pujian, tapi juga permintaan untuk belajar langsung. Generasi muda Tulungagung mulai penasaran dengan cara membuat dan memainkan Leang Leong.
Tanpa disadari, keisengannya memicu efek domino: kelompok-kelompok seni yang dulu berhenti tampil mulai aktif lagi.
Desa-desa tetangga pun ikut tergerak mengadakan resparasi,membuat lagi leang leong. Bahkan beberapa sekolah dan komunitas karang taruna juga tertarik untuk memeriahkan kembali tradisi tersebut.
Namun, kebangkitan ini tidak datang tanpa tantangan. Dian mengaku kini sering kewalahan karena harus mengerjakan pesanan Leang Leong seorang diri.
“Sekarang orderan makin banyak, alhamdulillah. Tapi ya capek juga, Mas, karena semua saya kerjakan sendiri. Dari bikin kepala naga sampai badan, semua tangan saya yang ngerjain,” ujarnya.
Kegigihan Dian bukan hanya soal melestarikan budaya, tetapi juga tentang menciptakan kebersamaan di tengah masyarakat.
Melalui grup Leang Leong yang ia bentuk, ia rutin mengajak anak-anak muda ikut latihan, membangun rasa bangga terhadap warisan budaya lokal. Grupnya bahkan kerap menyabet penghargaan di berbagai perlombaan daerah.
Tiga kali berturut-turut, grup Leang Leong binaan Dian (Mbah Gurem) berhasil meraih juara 1 di tiga lokasi berbeda: di Desa Bangoan, Radio Pandawa, dan Desa Bukur sekitar tahun 2015-an.
Baca Juga: Terkena Api Leang Leong yang Menyambar Balon Mainan, Dua Bocah Asal Tulungagung Alami Luka Bakar
Prestasi ini menjadi bukti bahwa ketika tradisi dikelola dengan cinta dan kreativitas, ia bisa kembali hidup bahkan bersinar lebih terang dari sebelumnya.
“Yang bikin saya semangat itu pas lihat anak-anak muda bahkan bocil-bocil sekarang mulai suka lagi sama Leang Leong. Mereka datang liat saya membuat leang leong, ikut belajar, bahkan menerapkan membuat sendiri dengan grup" nya. Itu tandanya budaya leang leong ini bisa hidup kembali,” ujar Dian penuh harap.
Apa yang dilakukan Dian Oktaviantoro seharusnya menjadi contoh bagi generasi muda lainnya. Di tengah derasnya budaya asing dan hiburan digital, masih ada ruang luas untuk melestarikan kesenian lokal dengan cara kreatif.
Leang Leong bukan sekadar atraksi, tetapi simbol semangat kebersamaan,dan kreativitas masyarakat Tulungagung.
Ke depan, Dian berharap agar budaya leang leong ini tetap dilestarikan karena ini sangan bagus untuk bocil'' mengasah kekreativitasan,kekompakan untuk membuat leang leong,dan tidak melulu bermain hp dirumah
Dengan semangat yang menyala dari generasi muda seperti Dian, harapan itu bukan mustahil. Suara gendang, gemulai naga warna-warni, dan sorak warga bisa kembali menjadi bagian dari identitas Tulungagung — bukan hanya dalam kenangan, tapi di setiap jalan dan hati warganya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana