TULUNGAGUNG – Isu kesehatan mental menjadi sorotan utama dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 2025 jadi sorotan serius berbagai pihak, termasuk Anggota DPRD Kabupaten Tulungagung Komisi C yang bermitra dengan bidang kesehatan, Mas Dio Jordy Alvian. Itu sebanya DPRD, pemkab, UIN SATU Tulungagung, dan sejumlah pihak terkait komitmen meningkatkan sinergitas untuk mengawal isu ini.
Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Tulungagung, Dio Jordy Alvian, mengungkapkan bahwa fenomena gangguan kesehatan mental di wilayah tersebut memerlukan perhatian serius.
Menurutnya, terdapat peningkatan kasus yang cukup signifikan dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Peren legislatif dalam isu ini adalah melakukan pengawasan terhadap implementasi peraturan daerah (perda) tentang kesehatan mental yang sudah ada.
“Pertama pengawasan terhadap Perda kesehatan mental yang sudah ada tahun 2016 nomor 14 itu. Cuma kita butuh sumbangsih juga dari universitas apa-apa yang butuh dilengkapi dari perda tersebut. Nanti butuh masukan dari pihak universitas maupun dukungan dari Pak Bupati,” terangnya.
Dia menilai implementasi perda di lapangan selama ini memang masih perlu optimalisasi dari berbagai pihak agar berjalan optimal dan mencakup seluruh aspek yang dibutuhkan. Dirinya menambahkan, data menunjukkan adanya kenaikan kasus yang cukup mengkhawatirkan.
“Kalau menurut saya selama ini masih belum lengkap untuk perda itu apalagi implementasinya di lapangan,” tegasnya,
Dia mengungkap bahwa tren peningkatan kasus di Tulungagung mencapai angka sekitar 20 persen sepanjang rentang 2024-2025.
Dio secara spesifik menyoroti kelompok gen-Z, yakni usia 0 hingga 20 tahun, sebagai kelompok yang paling rentan terdampak. Ia menjelaskan bahwa faktor ekonomi jelas memiliki pengaruh, apalagi fenomena banyak orang tua yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Tulungagung.
Ketiadaan perhatian dari orang tua yang bekerja di luar negeri itu lantas berpengaruh pada kondisi psikologis anak. Selain itu, faktor media sosial yang kurang kontrol dan maraknya fenomena judi online (judol) juga disebut-sebut sebagai pemicu terbesar.
“Bahkan yang fenomena saat ini itu judol yang juga itu mempengaruhi psikologis dari kondisi mental dari si anak,” imbuhnya.
Berawal dari ngopi bareng dengan salah satu dosen UIN yang juga founder start up konseling kesehatan mental, Khilman Rofi Azmi yang juga ketua panitia acara, Dio didapuk sebagai salah satu pemateri secara personal. Bagi dia, ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengawal kesehatan mental di Tulungagung.
Menyikapi urgensi masalah kesehatan mental, Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, menyatakan dukungannya terhadap setiap upaya yang mengedepankan tema kesehatan mental, seperti yang diangkat oleh UIN SATU Tulungagung.
Bupati mengakui bahwa persoalan di lapangan, khususnya yang timbul akibat tingginya angka perceraian dan dampak ditinggalkan anggota keluarga yang menjadi TKI, telah memicu gangguan mental di tengah masyarakat, termasuk pada anak-anak.
“Itu yang memicu terjadinya angka perceraian yang sangat meningkat dan di sanalah awal dari kebanyakan keluarga yang ditinggal termasuk anak dan juga suami atau istri itu mengalami gangguan mental,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UIN SATU Tulungagung, Abdul Aziz, memandang kolaborasi antara Pemda, DPRD, dan akademisi sebagai langkah kolektif yang esensial untuk mewujudkan Tulungagung yang sehat mental dan jiwa.
Dia menjelaskan bahwa kesehatan mental masyarakat memiliki dampak luas, bahkan hingga mempengaruhi aspek ekonomi dan penilaian investor.
“Ekonomi juga ditentukan itu juga, investor juga tentu menilai seberapa sehat mental dari masyarakat Tulungagung,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Aziz menyampaikan rencana UIN SATU untuk mengembangkan solusi berbasis teknologi guna memfasilitasi konsultasi dan deteksi dini masalah mental.
Pihaknya berencana meluncurkan sebuah aplikasi daring yang dapat digunakan untuk memetakan tingkat kecemasan dan depresi di masyarakat.
“Dan kita ingin berikhtiar bagaimana nanti ada aplikasi secara online yang bisa untuk konsultasi terkait dengan beberapa hal yang bisa kita petakan tingkat kecemasan dan juga tingkat depresi itu yang kayak bagaimana nanti kita akan buat,” katanya. (dit)
Editor : Aditya Yuda Setya Putra