TULUNGAGUNG - Di banyak sudut kampung di Tulungagung, ada suara khas yang kerap terdengar di pagi hari botol kaca beradu satu sama lain.
Suara itu bukan sembarang bunyi, melainkan tanda hadirnya penjual jamu gendong yang sudah jadi bagian dari keseharian warga.
Baca Juga: 7 Jamu Tradisional di Tulungagung, Beragam Kekayaan Warisan Budaya dan Kesehatan
Dengan bakul berisi botol-botol jamu di punggung, penjual berjalan menyusuri gang-gang kampung.
Setiap denting botol yang beradu seakan menjadi alarm alami yang membangunkan warga untuk memulai hari dengan segelas ramuan tradisional.
Ada yang memilih kunyit asem untuk segar-segar, beras kencur untuk tenaga, atau temulawak untuk menjaga kesehatan.
Baca Juga: Dukun Bayi dan Jamu di Tulungagung jadi Warisan Pengobatan Tradisional yang Tetap Hidup
Tradisi minum jamu ini tidak sekadar soal kesehatan, tapi juga kebiasaan turun-temurun yang masih bertahan di tengah gempuran minuman modern.
Banyak warga yang merasa lebih dekat dengan alam saat meneguk jamu racikan tradisional, apalagi langsung dari tangan penjual yang ramah.
Baca Juga: Tumbuhan Obat Khas Tulungagung yang Sudah Jarang Dikenal Anak Muda
Fenomena penjual jamu gendong di pagi hari menjadi pemandangan khas Tulungagung yang menyejukkan.
Bukan hanya pedagang, melainkan juga penjaga warisan budaya sekaligus teman setia warga kampung untuk memulai aktivitas dengan tubuh lebih bugar.
Editor : Dharaka R. Perdana