RADAR TULUNGAGUNG - Menjelang waktu Magrib, ada satu tanda khas yang masih terasa begitu hidup di Tulungagung dentuman suara bedug dari masjid.
Bunyi dum... dum... dum... itu bukan sekadar pukulan pada sebatang kayu besar, melainkan isyarat penuh makna yang sudah turun-temurun diwariskan.
Baca Juga: Suara Bedug Magrib Tulungagung Tanda Buka Puasa dan Panggilan Nostalgia
Bagi warga Tulungagung, suara bedug Magrib menjadi pertanda waktu istirahat kerja segera tiba, saat berkumpul bersama keluarga, atau waktu berbuka bagi yang sedang berpuasa sunnah.
Di banyak masjid kampung, bedug dipukul dengan ritme khas keras, berirama, lalu perlahan berhenti sebelum akhirnya lantunan adzan menggema.
Baca Juga: Potret Penjaga Masjid Tulungagung, Diam tapi Selalu Ada
Meskipun kini sudah ada pengeras suara dan jadwal sholat digital, suara bedug tetap punya tempat tersendiri di hati masyarakat.
Ada nuansa tradisi, ada nilai nostalgia, seolah menghadirkan kembali suasana masa lalu ketika bedug menjadi satu-satunya penanda masuknya waktu sholat.
Baca Juga: Wisata Religi di Tulungagung Menyusuri Jejak Ziarah dan Tradisi Spiritual yang Sarat Makna
Fenomena ini bukan hanya soal ibadah, melainkan juga soal kebersamaan. Anak-anak sering berlarian mendekat ke masjid ketika mendengar bedug ditabuh, sementara orang tua tersenyum mengingat masa kecil mereka yang juga pernah memukul bedug dengan penuh rasa bangga.
Di tengah modernisasi, suara bedug Magrib di Tulungagung tetap bertahan sebagai warisan budaya yang hangat, sederhana, namun sarat makna. ****
Editor : Dharaka R. Perdana