RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah maraknya motor dan mobil pribadi, angkutan umum di Tulungagung ternyata masih punya tempat di hati masyarakat.
Dari MPU yang setia melintas di jalan antar kecamatan, bus mini yang menghubungkan desa ke kota, hingga penumpang setia yang sudah terbiasa bergantung padanya, angkutan umum tetap hidup dan berjalan.
Baca Juga: Bus Sekolah, Solusi Transportasi yang Aman dan Nyaman bagi Peserta Didik
Bagi sebagian orang, naik MPU bukan hanya soal transportasi, tapi juga soal nostalgia. Suara mesin tuanya, teriakan khas sopir menawarkan rute, sampai kebiasaan duduk berhimpitan dengan penumpang lain justru menghadirkan suasana yang akrab.
Banyak pelajar, pekerja, hingga ibu-ibu pasar masih memilih mikrolet karena ongkosnya murah dan bisa berhenti di mana saja.
Baca Juga: Daftar Bus Listrik yang Beroperasi di Indonesia: Rute, Tarif, dan Jadwal Terbaru 2025
Bus mini juga tak kalah penting. Ia jadi penghubung utama warga desa yang ingin ke pusat kota Tulungagung.
Meski kini jumlah penumpang berkurang karena banyak orang sudah punya motor, bus mini tetap beroperasi karena masih ada permintaan orang tua yang tak bisa naik motor, rombongan ibu-ibu belanja, hingga para pedagang kecil.
Baca Juga: Kalau Kamu Harus 10 Jam di Bus, Duduk di Mana?
Menariknya, ada penumpang setia yang sudah bertahun-tahun naik angkutan umum yang sama. Mereka sudah hafal sopirnya, rutenya, bahkan kadang menjadikan perjalanan harian ini sebagai ruang bercengkerama ringan.
Angkutan umum di Tulungagung memang bukan lagi pilihan utama banyak orang, tapi ia masih jadi urat nadi bagi sebagian warga.
Ada cerita, keakraban, dan rasa sederhana yang membuat moda transportasi ini tetap bertahan di tengah derasnya arus modernitas. ****
Editor : Dharaka R. Perdana