RADAR TULUNGAGUNG - Sejak matahari baru muncul di balik perbukitan, ribuan warga sudah memadati lapangan Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung.
Mereka datang berduyun-duyun, berseragam nuansa hijau dan putih, mengikuti Jalan Sehat Santri, penutup rangkaian Hari Santri Tulungagung 2025.
Tak hanya dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), peserta juga datang dari berbagai ormas Islam lain seperti LDII, Muhammadiyah, hingga Jamaah Anshorul Khilafah, serta masyarakat umum. Dari anak-anak hingga lansia, semua larut dalam suasana guyub dan meriah.
Ketua Panitia Hari Santri Kecamatan Pagerwojo Agil Wuisan mengatakan, jalan sehat ini menjadi penutup dari serangkaian kegiatan Hari Santri yang telah digelar sejak beberapa hari lalu. Mulai dari apel santri, gebyar shalawat, hingga pengajian akbar.
“Alhamdulillah, peserta yang hadir mencapai sekitar seribu orang. Tidak hanya dari NU, tapi juga ormas keagamaan lain. Kami ingin menunjukkan bahwa santri itu sehat, rukun, dan mencintai kebersamaan,” ujarnya dengan penuh semangat.
Menurut Agil, Hari Santri tahun ini tidak sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum memperkuat persaudaraan dan harmoni sosial antarumat beragama.
Baca Juga: Refleksi Hari Santri dan Fenomenanya
“Pesan utamanya sederhana: hidup sehat, hidup rukun, dan terus menjaga silaturahmi. Semoga kegiatan semacam ini bisa menjadi tradisi yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Kemeriahan acara makin terasa saat Camat Pagerwojo Setiono turun langsung menyerahkan hadiah utama berupa seekor kambing kepada peserta yang beruntung.
Beragam hadiah hiburan juga dibagikan kepada peserta lain, mulai dari peralatan rumah tangga hingga voucher belanja, hasil dukungan para donatur dan sponsor lokal.
Turut hadir dalam kesempatan itu unsur Muspika Pagerwojo, anggota DPRD Tulungagung Fraksi PKB Muliyono Susanto, serta perwakilan dari PCNU Tulungagung. Semua larut dalam suasana kekeluargaan.
Anak-anak tampak antusias mengibarkan bendera bertuliskan “Santri Sehat, Indonesia Kuat”, sementara para ibu berfoto bersama mengenakan syal hijau khas santri.
Di sisi lain, para bapak bercengkerama santai di bawah rindangnya pepohonan sepanjang rute jalan sehat.
“Yang paling penting bukan hadiahnya, tapi bagaimana masyarakat bisa bersama, saling mengenal, dan tetap rukun. Itulah esensi Hari Santri yang sebenarnya,” tutur Agil menutup acara.
Dengan langkah ringan dan tawa riang, masyarakat Pagerwojo membuktikan, semangat santri bukan hanya milik para penghuni pesantren.
Ia telah tumbuh di tengah masyarakat sebagai semangat kebersamaan, kesehatan, dan persaudaraan yang menjadi jiwa Indonesia. ****
Editor : Dharaka R. Perdana