RADAR TULUNGAGUNG – Peluang besar bagi generasi muda Tulungagung untuk menembus dunia kerja internasional kini terbuka lebar melalui program Visa E-7. Sebuah skema kerja profesional yang diakui Pemerintah Korea Selatan.
Program tersebut bukan hanya menawarkan kesempatan bekerja, melainkan juga membuka jalan pendidikan dua tahun di universitas negeri di Korea Selatan sebagai bekal menuju dunia kerja berstandar global.
Asisten Konsulat Jenderal Korea Selatan di Jawa Timur, Lee Kyeong Yoan MPd menjelaskan, visa E-7 merupakan jalur resmi dan legal bagi tenaga kerja asing terampil untuk berkarier di Korea Selatan.
“Banyak orang Indonesia, termasuk di Tulungagung, belum memahami tentang Visa E-7. Padahal ini jalur kerja profesional yang sah dan menjanjikan masa depan yang jelas,” ujar Lee, saat hadir di Tulungagung, Senin (27/10) lalu.
Menurut dia, selama dua tahun terakhir, dari 10 ribu pendaftar nasional, sebanyak 8 ribu gagal karena tidak menguasai bahasa Korea, sedangkan 2 ribu lainnya terhambat akibat menempuh jalur nonresmi.
“Masalah terbesar calon tenaga kerja Indonesia adalah kurangnya kemampuan bahasa dan ketidaktahuan tentang sistem pendidikan resmi di Korea,” tegasnya.
Program Visa E-7 mensyaratkan calon tenaga kerja menempuh kuliah dua tahun (D-2) di universitas Korea Selatan sebelum beralih ke visa kerja.
Dalam masa studi, mahasiswa diizinkan bekerja paro waktu hingga 20 jam per minggu, serta 40 jam per minggu saat akhir pekan, dengan upah rata-rata Rp 120 ribu per jam. “Kalau cerdas mengatur waktu, mahasiswa bisa menutupi biaya hidup bahkan menabung,” kata Lee.
Lee menggambarkan program pendidikan dua tahun di Korea Selatan sebagai “jembatan emas” menuju dunia kerja internasional.
“Kalau langsung lompat ke pekerjaan itu susah. Harus lewat jembatan, dan jembatannya adalah kuliah di Korea dua tahun,” tuturnya.
Setelah lulus, mahasiswa dapat langsung mengajukan Visa E-7 dan bekerja di sektor-sektor profesional seperti industri teknologi, otomotif, kesehatan, perawatan lansia (jakaransia), hingga konstruksi dan transportasi.
“Begitu lulus, mereka bisa langsung diterima kerja. Kalau performa bagus, bisa dikontrak jangka panjang dan hidup mandiri di Korea,” ujarnya.
Bidang jakaransia, lanjut Lee, menjadi sektor yang paling membutuhkan tenaga kerja asing karena populasi lansia Korea Selatan meningkat pesat.
“Tenaga perawat sosial dan pendamping lansia sangat dibutuhkan. Indonesia punya potensi besar untuk itu,” tandasnya.
Lee menegaskan, program Visa E-7 bukan semata urusan ekonomi, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan anak muda Indonesia.
“Saya ingin anak-anak Indonesia, termasuk Tulungagung, bisa kerja di Korea Selatan bukan hanya untuk cari uang, melainkan untuk belajar disiplin, budaya kerja, dan teknologi maju. Pendidikan itu jembatan menuju masa depan,” pungkasnya.
Untuk diperhatikan, persyaratan sebelum berangkat harus punya sertifikat bahasa Korea level 2.
Persiapan bahasa dan informasi lengkap bisa menghubungi LPK Bima Surya, Jalan Letjen S Parman 29 Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Selain itu bisa dilihat di www.lpkstgl.com. ****
Editor : Dharaka R. Perdana