RADAR TULUNGAGUNG – Tulungagung dikenal sebagai salah satu daerah dengan produksi belimbing yang melimpah.
Namun, buah berwarna kuning keemasan itu kerap menghadapi tantangan dalam pemasaran karena mudah rusak dan memiliki daya simpan pendek.
Kondisi tersebut sering membuat harga jual di tingkat petani dan pelaku usaha kecil kurang stabil.
Padahal, potensi belimbing sebagai bahan dasar olahan bernilai ekonomi tinggi sangat besar, mulai dari sirup, dodol, keripik, hingga minuman fermentasi yang kini banyak diminati pasar domestik maupun ekspor.
Melihat potensi tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Tulungagung, salah satu BUMN yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat prasejahtera, mendorong terbentuknya klaster usaha olahan belimbing di kalangan nasabah Mekaar.
Melalui pendampingan intensif, pelatihan kewirausahaan, serta akses pembiayaan dan pemasaran digital, PNM berupaya mengubah tantangan menjadi peluang.
Program ini tidak hanya membantu masyarakat meningkatkan daya tahan produk, tetapi juga membuka peluang untuk memperluas pasar hingga keluar daerah.
Dengan dukungan berkelanjutan dari PNM, klaster olahan belimbing di Tulungagung diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana pemberdayaan perempuan dapat menggerakkan ekonomi desa.
Selain menciptakan kemandirian usaha, inisiatif ini juga memperkuat semangat gotong royong antar-nasabah serta membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pelaku industri kreatif.
Pemimpin Cabang PNM Tulungagung Irvan Effendi menjelaskan, program tersebut lahir dari pengamatan terhadap kebiasaan nasabah yang memiliki pohon belimbing di pekarangan rumah namun hanya menjual hasilnya di depan rumah.
“Kami melihat banyak ibu nasabah yang setiap musim panen justru kebingungan karena hasilnya melimpah, tapi sulit dijual cepat dan akhirnya rusak. Kami bantu mereka mengolah belimbing menjadi produk bernilai tambah yang bisa bertahan lama dan lebih mudah dipasarkan,” ujarnya.***
Editor : Vidya Sajar Fitri