RADAR TULUNGAGUNG - Kalau Anda berkeliling di kampung-kampung Tulungagung, jangan heran kalau tiba-tiba terdengar bunyi klakson unik yang berbeda dari biasanya.
Bukan suara motor lewat, melainkan tanda khas penjual rujak cingur keliling yang sedang menawarkan dagangannya. Suara ini sudah begitu akrab di telinga warga, sampai-sampai orang langsung tahu: “Ah, rujak cingur lewat!”
Penjual rujak cingur keliling biasanya mendorong gerobak atau menggunakan sepeda motor dengan kotak dagangan di bagian belakang.
Mereka menjajakan rujak khas Jawa Timur yang lengkap dengan cingur (irisan mulut sapi), sayur rebus, lontong, tahu, tempe, dan tentu saja bumbu petis yang jadi ciri khasnya. Semua disajikan langsung di tempat, fresh, sesuai pesanan pembeli.
Keunikan rujak cingur keliling ini bukan cuma soal rasa, tapi juga soal suasana. Bunyi klakson khasnya seakan jadi kode universal di kampung-kampung Tulungagung.
Anak-anak, ibu-ibu, bahkan bapak-bapak yang sedang santai di teras rumah langsung tahu ada makanan enak yang lewat. Kadang, penjual berhenti agak lama di satu titik karena banyak pelanggan yang sudah menunggu.
Baca Juga: 5 Makanan Tradisional Indonesia yang Hampir Punah, Pernah Mencobanya?
Selain praktis, rujak cingur keliling juga punya nilai nostalgia. Banyak orang merasa lebih nikmat membeli di gerobak keliling daripada di warung tetap, karena sensasi menunggu suara klakson itu sendiri menghadirkan kenangan masa kecil.
Di tengah maraknya kuliner modern, fenomena penjual rujak cingur keliling di Tulungagung masih bertahan hingga sekarang. Bukan sekadar jualan makanan, tapi juga bagian dari warna kehidupan sehari-hari masyarakat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana