RADAR TULUNGAGUNG - Status Tulungagung sebagai Kota Marmer tampaknya menghadapi tantangan serius.
Data dari hasil penelitian bersama sejumlah pihak terkait yang diungkap Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tulungagung menunjukkan adanya kekhawatiran terkait ketersediaan deposit marmer dan batuan karst di wilayah selatan.
Kabid Perekonomian dan SDA Eko Hadi Prabowo, menuturkan bahwa marmer merupakan identitas utama Tulungagung.
Itu tampak dari deposit batuan karst yang sudah lama ditemukan. Dan saat ini telah berkembang menjadi sentra pengolahan dengan melibatkan banyak perajin, terutama di sekitar Desa Besole, Kecamatan Besuki.
Kendati demikian, dalam perkembangannya, muncul isu mendesak terkait perlindungan lingkungan.
"Pada waktu ditemukan itu kan sudah berkembang sampai saat ini ada yang mengolah marmer juga, perajin-perajin lain yang di sekitar Desa Besole itu," kata Eko.
Kekhawatiran utama muncul dari fakta bahwa marmer merupakan jenis batuan yang lebih tua dari batuan kapur atau karst.
Di mana batuan karst itu sendiri memiliki fungsi krusial sebagai penyimpan air tanah yang harus dilindungi. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
"Nah itu nanti pada waktunya tentu harus menjadi perhatian penting bagi Pemkab Tulungagung. Perlindungan untuk bebatuan karst ini," terangnya.
Eko juga menyoroti kondisi ketersediaan bahan baku penambangan. Menurut dia, deposit marmer dengan kualitas bagus saat ini cenderung semakin menipis seiring dengan proses penambangan yang terus berlangsung.
Situasi ini diperparah dengan jumlah perajin di wilayah tersebut yang terbilang cukup banyak. "Saat ini marmer itu dalam proses penambangannya, deposit yang tersedia itu untuk kualitas yang bagus kayaknya semakin menipis," paparnya.
Untuk menyiasati kelangkaan bahan baku berkualitas lokal, perajin di kawasan tersebut dikabarkan sudah melakukan antisipasi.
Masyarakat di sekitar sentra pengolahan marmer mulai mendatangkan bahan baku dari luar Tulungagung untuk tetap melanjutkan produksi dan diolah menjadi berbagai macam bentuk.
"Nah masyarakat yang di sekitar itu mengantisipasi dengan mendatangkan bahan baku dari luar Tulungagung untuk diolah jadi berbagai macam bentuk," kata Eko.
Meskipun demikian, Dia menilai perlunya upaya dari banyak pihak untuk menjaga agar predikat Kota Marmer tetap melekat pada Tulungagung.
"Jadi kalau Tulungagung ikonnya marmer itu memang betul. Dan itu memang berusaha kita jaga agar tetap jadi Tulungagung Kota Marmer," imbuhnya.
Menanggapi potensi batuan karst, hasil penelitian berbagai akademisi dan Bappeda menunjukkan bahwa potensi batuan karst di wilayah pegunungan selatan Tulungagung masih besar.
Baca Juga: Sirkuit Paraga Tulungagung, Wisata Motocross dengan Pesona Bukit Marmer dan Sungai yang Sejuk
Kawasan karst yang membentang dari pesisir selatan Pulau Jawa dari barat hingga timur ini dinilai vital.
"Itu kan membentang dari barat hingga timur pesisir selatan Pulau Jawa. Nah itu memang di dalam kasus itu juga ada disebutkan bahwa terdapat sungai bawah tanah," sebutnya.
Adanya sungai bawah tanah tersebut menjadikannya sebagai sumber mata air utama bagi penduduk setempat. Eko berharap masyarakat Tulungagung dapat berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian.
"Melestarikan sumber mata air untuk kehidupan masa depan. Mata air itu penting harus kita lestarikan untuk menjamin kehidupan di masa yang akan datang," ucapnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana