RADAR TULUNGAGUNG - Bentang alam perbukitan karst dan deposit marmer di wilayah Tulungagung selatan menyimpan sejarah geologis yang panjang dan menakjubkan.
Batuan yang kini menjadi komoditas unggulan Tulungagung ini ternyata merupakan lapisan dasar laut dangkal yang mengalami proses pengangkatan kulit bumi jutaan tahun silam.
Proses geologis ini diungkapkan Dwi Cahyono, seorang sejarawan sekaligus Dosen Jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung. Menurut dia, pegunungan kapur di selatan Tulungagung merupakan bagian dari Formasi Kendeng Kidul.
"Di Jawa itu kan ada tiga Pegunungan Kendeng. Yang berdasarkan posisinya di bentang pulau Jawa itu bisa dikelompokkan menjadi tiga formasi. Yaitu Kendeng Utara, Kendeng Tengah, dan Kendeng Kidul. Nah, pegunungan kapur yang ada di Tulungagung ini masuk pada formasi Kendeng Kidul," jelasnya.
Dia menambahkan, terbentuknya formasi bebatuan di Tulungagung ini terjadi melalui proses alam yang disebut geosinklinal. Yakni proses pengangkatan.
Secara spesifik, pergerakan lempeng di Tulungagung adalah sinklinal, yang merujuk pada gerakan pengangkatan kulit bumi.
Baca Juga: Mengintip Dapur Marmer Tulungagung, Wisata Edukasi yang Jarang Diketahui
Adapun formasi pegunungan di area tersebut merupakan tepian Samudra Indonesia atau yang dulu disebut Samudra Hindia, yang semula berupa laut dangkal.
Pengangkatan inilah yang akhirnya membentuk Pegunungan Kapur Selatan Tulungagung. "Tulungagung itu sinklinal. Jadi gerakan pengangkatan kulit bumi," tegasnya.
Lebih lanjut, Dwi menyatakan bahwa apa yang kini dikenal sebagai Gunung Kendeng Kidul sejatinya adalah dasar laut yang terangkat ke permukaan. Hal ini diperkuat dengan temuan fosil-fosil biota laut di area tersebut.
"Oleh karena itu di area ini juga saya sering menemukan fosil-fosil binatang laut seperti misalnya kerang-kerangan, siput-siputan, bintang laut, kadang kuda laut," ungkap Dwi.
Secara umum, dia menyimpulkan bahwa batuan marmer Tulungagung secara geologis memiliki riwayat sebagai dasar laut dangkal yang terangkat akibat pergerakan kulit bumi. "Jadi batuan marmer Tulungagung itu sebenarnya adalah dasar laut yang terangkat," pungkasnya.
Dwi juga menjelaskan bahwa di Tulungagung, area marmer sebenarnya lebih merupakan percabangan dari Pegunungan Kendeng yang membentang dari Trenggalek hingga Blitar di tepian pantai.
Percabangan tersebut dimulai dari sekitar Besuki, khususnya daerah Besole, yang kemudian mengarah ke utara melewati Campurdarat, menuju Boyolangu (termasuk Gunung Budheg atau Gunung Cikrak), lalu membelok ke timur hingga Selomangleng dan Candi Dadi.
Formasi percabangan ini secara spesifik disebut dengan Subformasi Walikukun. Area penambangan marmer yang membentang dari Besole hingga Gamping merupakan sentra utama kegiatan tersebut.
"Area penambangan marmer itu kan membentang mulai dari Besole sampai Gamping. Ini yang terutama menjadi sentra penambangan marmer," pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana