RADAR TULUNGAGUNG - Dalam rentang 25 tahun terakhir, anak muda Tulungagung mengalami perubahan gaya hidup yang sangat dinamis.
Dari era tanpa internet cepat hingga dunia serba digital seperti sekarang, setiap dekade membawa warna baru baik dalam cara berkomunikasi, pilihan kendaraan, hingga selera musik yang mencerminkan identitas mereka.
2000-2005: Awal Era Modern, Semua Masih Serba Sederhana
Di awal 2000-an, anak muda Tulungagung masih menikmati kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk digital. Telepon genggam yang populer hanyalah Nokia monokrom, SMS 160 karakter sudah terasa keren, dan ringtone poliponik jadi kebanggaan.
Di jalanan, motor-motor seperti Honda Supra, Astrea, dan Yamaha Crypton menjadi kendaraan favorit. Anak muda lebih sering nongkrong di alun-alun, warung kopi tradisional, atau rental PS daripada mall karena memang belum banyak pilihan hiburan modern.
Musik? Kala itu didominasi oleh band-band pop dan rock Indonesia seperti Padi, Sheila On 7, hingga Dewa 19, yang menemani perjalanan sekolah dan masa-masa jatuh cinta.
Baca Juga: Anak Muda Harus Peduli Budaya: Menjaga Jati Diri Bangsa di Tengah Arus Globalisasi
2006-2012: Handphone Berkamera, Motor Matic, dan Ledakan Musik Baru
Ketika HP berkamera muncul, semuanya berubah. Anak muda Tulungagung mulai gemar berfoto bareng, bertukar lagu via Bluetooth, dan mulai memakai Friendster serta Facebook.
Motor matic seperti Honda Beat dan Vario masuk, membuat mobilitas semakin praktis khususnya bagi pelajar dan mahasiswa.
Di dunia musik, muncul gelombang baru: band indie lokal, pop Melayu, dan tren emo. Anak muda mulai belajar memainkan gitar, membentuk band sekolah, dan ikut pensi di mana-mana.
Lagu-lagu seperti “Cinta Lama Bersemi Kembali” hingga “Welcome to My Life” terasa sangat mendominasi.
Baca Juga: Kenapa Anak Muda Sekarang Sulit Fokus? Ternyata Bukan Karena Malas
2013-2018: Era Smartphone dan Anak Muda Super Terhubung
Masuknya smartphone Android mengubah segalanya. Anak muda Tulungagung mulai aktif di BBM, kemudian WhatsApp dan Instagram. Selfie, filter kamera, dan update stories mulai jadi gaya hidup.
Motor berubah jadi simbol gaya. Modifikasi velg, decal warna-warni, hingga komunitas touring semakin ramai.
Untuk musik, dunia semakin luas anak muda mulai mendengarkan K-pop, EDM, metal lokal, hingga musik DJ. Konser kecil, pensi sekolah, dan festival musik mulai tumbuh subur di Tulungagung.
2019-2025: Serba Digital, Serba Cepat, dan Semakin Ekspresif
Dalam beberapa tahun terakhir, gaya hidup anak muda Tulungagung berubah drastis bahkan lebih cepat dari sebelumnya.
Smartphone bukan lagi alat komunikasi, tapi “dunia utama.” TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts membuat cara mereka berkarya dan berekspresi semakin bebas. Konten kreator lokal bermunculan, dari video lucu hingga review kuliner Tulungagung.
Motor pun berkembang. Matic tetap mendominasi, tapi kini tren bergeser ke custom style simpel, motor listrik, dan riding untuk healing.
Di ranah musik, generasi ini lebih beragam seleranya. Mulai Lo-fi untuk belajar, metal dan hardcore untuk yang suka energi, pop indie dan folk untuk yang mellow, dan dangdut koplo dan remixer lokal yang selalu hadir di setiap acara
Anak muda sekarang tidak terkotak dalam satu genre mereka bebas mencampur, mencoba, dan mengekspresikan diri. ****
Editor : Dharaka R. Perdana