Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

5 Pekerjaan Berikut Hampir Punah di Tulungagung, Salah Satunya Berhubungan dengan Julukan Kota Marmer

Yoga Dany Damara • Minggu, 23 November 2025 | 05:50 WIB

Salah satu pengrajin anyaman bambu semakin banyak orang yang peduli pada tradisi dan karya lama, agar setidaknya dokumentasinya tetap hidup, meski pelakunya mulai tiada.
Salah satu pengrajin anyaman bambu semakin banyak orang yang peduli pada tradisi dan karya lama, agar setidaknya dokumentasinya tetap hidup, meski pelakunya mulai tiada.

RADAR TULUNGAGUNG - Tulungagung dikenal sebagai kota yang kaya budaya, penuh tradisi, dan sarat cerita dari masa ke masa.

Namun di balik geliat kotanya yang terus berkembang, ada sejumlah pekerjaan lama yang kini mulai tergerus zaman.

Profesi-profesi ini dulunya menjadi napas ekonomi masyarakat, namun perlahan memudar seiring hadirnya teknologi dan pola hidup baru.

Inilah lima pekerjaan khas Tulungagung yang kini hampir punah namun menyimpan kisah, kearifan, dan identitas lokal yang layak terus diingat.

Baca Juga: Kenapa Banyak Sungai Kecil di Tulungagung Dipasang Jembatan Bambu? Ternyata Ada Makna dan Fungsi di Baliknya 

1. Pengrajin Marmer Manual, Sentuhan Tangan yang Kini Mulai Ditelan Mesin

Tulungagung pernah berjaya sebagai kota marmer terbesar di Indonesia. Dahulu, para pengrajin marmer mengolah batu dengan alat sederhana, memahat, menggosok, hingga mengukir setiap lekuknya secara manual.

Kini, mesin-mesin modern telah mengambil alih. Lebih cepat, lebih rapi, tetapi tak lagi punya cerita.

Para pengrajin manual yang tersisa tinggal hitungan jari. Tangan mereka menyimpan memori berpuluh tahun tentang cacah batu, debu marmer, dan seni yang perlahan tak lagi ada penerusnya.

 Baca Juga: Kue Putu, Kue Tradisional dengan Aroma Bambu dan Rasa Manis yang Bikin Nostalgia

2. Pembuat Anyaman Bambu, Kehalusan Seni yang Mulai Kalah dengan Plastik

Anyaman bambu dulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Tulungagung. Dari besek, tampah, sampai keranjang besar untuk hasil panen semua karya tangan para pemgayam. Kini benda-benda itu digantikan produk plastik pabrik yang lebih murah dan tahan lama.

Bambu yang dulu menjadi simbol kesederhanaan dan kegigihan masyarakat desa semakin jarang disentuh. Para penganyam yang tersisa bertahan bukan untuk kaya, tapi karena cintanya pada tradisi.

Baca Juga: Antara Bambu dan Tikar Tulungagung, Ruang Tamu Serba Guna Rumah Desa 

3. Tukang Patri, Ahli Menyambung Barang Logam yang Kini Hampir Tak Ditemukan

Dulu, sebelum budaya “barang rusak beli baru” populer, tukang patri adalah penyelamat rumah tangga. Panci bocor, ceret jebol, wajan retak semua bisa diperbaiki.

Kini, profesi ini hampir hilang. Barang logam semakin murah, masyarakat enggan memperbaiki, dan tukang patri makin sulit dijumpai. Padahal keterampilannya adalah warisan teknik kuno yang dahulu sangat dihargai.

4. Penambang Tradisional, Pewaris Cara Lama di Tengah Industri Modern

Di beberapa daerah Tulungagung, penambang tradisional dulu menggantungkan hidup pada teknik manual menggali, memikul, memecah batu dengan palu dan linggis.

Hari ini, alat berat dan industri besar mendominasi. Penambang tradisional makin terpinggirkan, padahal merekalah saksi perjalanan panjang tanah Tulungagung hingga dikenal kaya sumber daya mineral.

5. Pembuat Tempe Jadul, Rasa Tradisional yang Kini Tersingkir oleh Produksi Massal

Tempe adalah identitas kuliner Jawa, dan di Tulungagung pernah ada banyak pengrajin tempe rumahan yang membuatnya dengan metode tradisional:fermentasi daun jati, bungkus daun, proses alami tanpa pengawet.

Sekarang, sebagian besar tempe diproduksi massal dengan plastik, ragi instan, dan waktu cepat. Pengrajin tempe jadul makin sedikit, dan rasa tempe tradisional perlahan menghilang dari meja makan.

Karena mereka bukan sekadar pekerjaan melainkan jejak budaya dan identitas lokal. Ketika pekerjaan itu hilang, hilang pula potongan kecil sejarah Tulungagung.

Mudah-mudahan lewat cerita ini, semakin banyak orang yang peduli pada tradisi dan karya lama, agar setidaknya dokumentasinya tetap hidup, meski pelakunya mulai tiada. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tergerus zaman #tulungagung #pekerjaan #punah