RADAR TULUNGAGUNG - Keindahan panorama senja di Puncak Jowin, Desa Winong, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung kembali menjadi sorotan nasional.
Dalam rangkaian acara Geopark Nasional Tulungagung yang digelar pada Rabu 26/11 malam, para delegasi dari berbagai daerah di Jawa timur.
Mulai Bojonegoro, Gresik, Ngawi, Magetan, Trenggalek hingga Plt Kepala Disbudpar Tulungagung Johannes Bagus Kuncoro bersama stakeholder juga hadir menikmati langsung pesona sunset di kawasan yang kini tengah dikembangkan menjadi destinasi unggulan Geopark Nasional Tulungagung.
Baca Juga: Puncak Jowin Tulungagung: Negeri di Atas Awan yang Bikin Kamu Lupa Pulang!
Kegiatan dimulai dengan melakukan kunjungan lapangan ke Puncak Jowin . Setelah rombongan belajar tentang kesiapan validasi Geopark Nasional menuju UNESCO Global Geopark (UGGp) 2026.
Peserta kemudian disambut dengan view alam memukau dan penampilan tarian dari Sanggar Lestari Widodo Wiryotomo, music band bareng dan ditemani makan malam bersama rombongan dan ditutup dengan sunset experience.
Kepala Desa Winong, Sutejo, mengungkapkan bahwa Puncak Jowin memiliki daya tarik visual yang jarang ditemukan di destinasi lain.
Spot yang disebut warga “Gerbang Kahyangan” menjadi ikon. Dari titik ini, wisatawan dapat menyaksikan gradasi cahaya senja dan gugusan bintang malam dengan lanskap hijau pegunungan.
“Ini momen matahari terbit dan terbenam yang sangat menawan dilihat dari ketinggian yang istimewa,” ujarnya.
JOBaca Juga: Bagai Negeri di Atas Awan, Inilah Daya Tarik Puncak Jowin Tulungagung
Sutejo berkisah, awal kemunculan destinasi ini ditandai meningkatnya minat komunitas sepeda MTB yang mencari rute ekstrem dengan pemandangan indah. Dari situlah Puncak Jowin mulai mendunia.
Selain alamnya yang mempesona, kawasan ini menyimpan nilai geologi kelas dunia. Di kaki tebing Puncak jowin yang masih masuk wilayah Desa Winong, ditemukan banyak fosil kerang dan bebatuan berusia ribuan hingga jutaan tahun.
Ini merupakan warisan geologi berupa fosil kerang purba di bawah tebing. Apalagi penelitian telah dilakukan sejak 2020, dan mendapat perhatian Kementerian ESDM hingga Badan Pengelola Geopark Nasional. “Bentuk bebatuan dan fosil laut menjadi nilai jual tertinggi geowisata di sini,” jelas Sutejo.
Wisatawan kini dapat menikmati beragam fasilitas yang terus dibenahi melalui program Bantuan Keuangan Khusus Provinsi Jawa Timur untuk penunjang wisata.
Seperti area parkir luas, spot foto estetik, gazebo, pendapa multifungsi, musalla, toilet, dan area berkemah.
"Selain itu ada wahana permainan anak, penginapan sederhana (homestay warga). Kami konsepkan alam tetap jadi pemeran utama. Pepohonan terus ditata agar tetap hijau meski musim kemarau,” tambahnya.
Kunjungan wisata memberi dampak langsung bagi warga lokal. Karena warung kuliner bertambah, penjualan produk UMKM naik, hingga lapangan kerja terbuka bagi pemuda.
Baca Juga: Mengenal Puncak Jowin, Wisata Warisan Bumi di Tulungagung Menjadi Destinasi Favorit
Pemdes Winong bersama komunitas berencana membuka pasar wisata mingguan di area Puncak Jowin. “Kami ingin masyarakat bukan penonton, tapi pelaku utama geowisata,” tegas Sutejo.
Sutejo berharap dukungan lebih kuat dari pemerintah kabupaten hingga pusat. Terutama peningkatan akses jalan dari rute Campurdarat, Bokong Semar, dan Joho). Hingga publikasi digital, promosi wisata, penguatan SDM pelaku wisata dan UMKM.
“Kalau Geopark Tulungagung diakui UNESCO, Puncak Jowin Tulungagung akan jadi ikon kebanggaan nasional,” ucapnya optimis.
Setelah sesi diskusi dan pemaparan terkait Signifikansi Warisan Geologi Bojonegoro dan Tulungagung, para delegasi menikmati suasana sejuk pegunungan di bawah langit Puncak Jowin.
Sebuah pengalaman yang tidak hanya menawarkan hiburan, namun juga edukasi konservasi alam Puncak Jowin. ****
Editor : Dharaka R. Perdana