Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perkembangan Bahasa Gaul Khas Tulungagung 2000–2025, Evolusi Satu Generasi

Yoga Dany Damara • Sabtu, 29 November 2025 | 03:01 WIB
Dari tahun ke tahun, bahasa gaul warga Tulungagung terus berevolusi mengikuti teknologi dan budaya.
Dari tahun ke tahun, bahasa gaul warga Tulungagung terus berevolusi mengikuti teknologi dan budaya.

RADAR TULUNGAGUNG - Bahasa gaul di Tulungagung berkembang seiring perubahan zaman dari logat ndeso yang kuat hingga gaya hybrid ala TikTok.

Meski berubah, satu hal tetap sama cara warga Tulungagung bercanda selalu ceplas-ceplos tapi hangat.

2000–2010 Era Ndeso Vibes

Anak muda masih nongkrong di alun-alun, naik motor bebek, dan ngobrol dengan bahasa Jawa kental.

Istilah seperti “ra mutu,” “ndang,” dan “ketro” mendominasi blak-blakan, sederhana, apa adanya.

2010–2015: Era Facebook dan Warnet

Mulai muncul campuran Jawa Indonesia alay. Kata-kata “ciyus,” “sok iyeh,” dan “sak karepmu” populer.

Nada bicara lebih ekspresif, penuh emotikon, dan sedikit drama.

2015–2020: Era Meme & Ngopi

Bahasa semakin humoris. Muncul istilah “ndakak,” “ra mashook,” dan “ngopi sik.” Logat tetap kuat, tapi cara bercandanya makin sarkastik.

2020–2025: Era TikTok dan Hybrid Language

Generasi baru mencampur slang nasional dengan logat lokal: “gaskeun,” “bocil,” “lek ngunu yo wes,” “bacot tok.” Ritmenya cepat, praktis, mengikuti tren internet.

Dari tahun ke tahun, bahasa gaul warga Tulungagung terus berevolusi mengikuti teknologi dan budaya.

Namun identitasnya tetap: logat Jawa yang hangat, humor khas, dan gaya bicara yang membuat percakapan terasa akrab meski hanya satu kalimat. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#bahasa #tulungagung #gaul #anak muda