Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sekelumit Kisah Seni Bertahan Hidup ala Warga Tulungagung Jenius yang Lahir dari Kesederhanaan

Yoga Dany Damara • Sabtu, 29 November 2025 | 19:08 WIB

Warga Tulungagung punya seni bertahan hidup yang tidak ribut, tidak mewah, tapi sangat efektif. Kesederhanaan itu justru membuat hidup jadi lebih ringan, lebih dekat dengan manusia lain dan alam
Warga Tulungagung punya seni bertahan hidup yang tidak ribut, tidak mewah, tapi sangat efektif. Kesederhanaan itu justru membuat hidup jadi lebih ringan, lebih dekat dengan manusia lain dan alam

RADAR TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, hidup bukan perlombaan ia adalah ritme yang dinikmati pelan-pelan.

Ada seni bertahan hidup yang mungkin terlihat remeh bagi orang luar Tulungagung, tetapi sesungguhnya menyimpan kecerdasan, efisiensi, dan filosofi yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga: Rekomendasi Bisnis yang Tetap Bertahan di Segala Zaman, Investasi Aman dan Strategi Jitu untuk Menjamin Keuangan di Masa Tua

1. Motor Bebek Puluhan Tahun Mesin Waktu yang Tetap Setia

Banyak warga Tulungagung masih mengandalkan motor bebek yang bahkan usianya lebih tua dari anak pertamanya.

Mereka merawatnya seperti anggota keluarga: ganti oli rutin, mesin diservis di bengkel langganan, dan tidak pernah tergoda gengsi motor baru.

Ini bukan soal hemat ini soal kepercayaan kepada benda yang telah membuktikan diri melewati jalan kampung, sawah, dan tanjakan.

Baca Juga: Kekhawatiran Gelembung Teknologi AI makin Nyata saat Valuasi Perusahaan Meroket Cepat, Sampai Kapan Lonjakan Ini akan Bertahan?

2. Pagar dari Sisa Material Kreativitas yang Lahir dari Logika Lokal

Di banyak rumah, pagar bukan sekadar pembatas. Ia adalah karya rekayasa sederhana besi bekas, kayu papan sisa proyek, hingga batu yang ditemukan di pinggir sungai.

Semua dirangkai jadi pagar yang kokoh, fungsional, dan rendah biaya. Di sini, kreativitas bukan hiasan ia bagian dari hidup.

Baca Juga: Cerita Sinden Asal Tulungagung Bertahan di Era Modern, Getol Tularkan Ilmu di Medsos

3. Jemuran di Depan Rumah Kejujuran Hidup ala Kampung

Di kota besar, orang butuh ruang laundry, pengering otomatis, atau area khusus. Di Tulungagung, orang cukup menggantungkan bajunya di depan rumah. Sederhana, apa adanya, dan terbuka.

Ada filosofinya hidup yang tidak perlu ditutup-tutupi. Lagipula, sinar matahari gratis dan jauh lebih wangi dari mesin pengering mana pun.

4. Duduk di Teras Sore-Sore Ritual Kecil yang Menyembuhkan

Menjelang matahari turun, warga biasanya keluar ke teras. Ada yang menyeruput kopi, ada yang ngobrol dengan tetangga, ada yang sekadar mengamati anak-anak main di jalan.

Tanpa mereka sadari, ini adalah “therapy session” alami relaksasi, interaksi sosial, dan momen memulihkan diri setelah seharian bekerja.

Semua ini menunjukkan satu hal Warga Tulungagung punya seni bertahan hidup yang tidak ribut, tidak mewah, tapi sangat efektif.

Kesederhanaan itu justru membuat hidup jadi lebih ringan, lebih dekat dengan manusia lain, dan lebih selaras dengan alam. Hidup di sini mungkin sederhana tapi justru di situlah letak kejeniusannya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #seni #hidup #Bertahan