RADAR TULUNGAGUNG - Tulungagung bukan hanya soal jalan, sawah, dan marmer. Ia adalah ruang yang berubah maknanya sesuai usia yang memandanginya.
Jika seorang anak 5 tahun dan seorang lansia 85 tahun berdiri di tempat yang sama katakanlah di alun-alun atau di depan rumah keduanya akan melihat kota yang sama sekali berbeda.
1. Tulungagung di Mata Anak 5 Tahun Dunia yang Selalu Ingin Diajak Main
Bagi seorang anak kecil, Tulungagung bukan kota melainkan lapangan bermain raksasa. Motor besar yang lewat adalah “robot suara keras, Sawah adalah “kolam hijau tempat katak main sembunyi-sembunyi, dan lain sebagainya.
Anak 5 tahun tidak memikirkan ekonomi, politik, atau masa depan kota. Ia hanya melihat warna hijau sawah, oranye lampu jalan, merah bakso dorong, biru sepeda roda tiga tetangganya.
Tulungagung baginya adalah tempat aman yang selalu punya ruang untuk berlari, jatuh, bangkit, lalu tertawa lagi.
Baca Juga: 5 Manfaat Tidur Siang untuk Anak yang Wajib Diketahui Orang Tua, Ini Durasi yang Disarankan
2. Tulungagung di Mata Orang 85 Tahun Kota yang Pelan-Pelan Menjauh
Untuk seorang yang berusia 85 tahun, Tulungagung adalah album foto panjang setiap sudut punya cerita.
Sawah yang dulu kosong kini jadi perumahan.Ia teringat masa muda: berjalan sore sambil memikul padi, bercanda dengan teman yang kini satu per satu berpulang.
Suara motor besar bukan lagi hal seru, tetapi tanda zaman yang makin cepat.Dulu sepeda ontel mendominasi, sekarang semua terburu-buru.
Anak-anak main hujan mengingatkan ia pada cucunya yang kini sibuk jauh di kota lain. Alun-alun yang berubah membuatnya tersenyum getir bagus, tapi rasanya tidak sama.
Tulungagung baginya bukan tempat bermain, melainkan tempat pulang. Kota yang menyimpan tawa, luka, kehilangan, dan rindu.Ia melihat perubahan yang tak bisa ditolak, tapi juga tak bisa dilepaskan.
3. Dua Usia, Dua Cara Mencintai Kota yang Sama
Anak 5 tahun mencintai Tulungagung karena hari ini karena bisa bermain di dalamnya.Orang 85 tahun mencintai Tulungagung karena kemarin karena semua hidupnya pernah tumbuh di sini. Yang satu melihat masa depan, yang lain melihat masa silam.
Namun keduanya diam-diam sama-sama percaya bahwa Tulungagung adalah tempat yang baik untuk hidup tempat di mana tawa anak dan kenangan orang tua bisa berpapasan di jalan yang sama.
4. Tulungagung, Kota yang Mengajarkan Waktu
Jika ada yang bisa dipelajari dari perbedaan dua mata ini, mungkin sederhana Tulungagung mengajarkan bahwa waktu adalah hal paling lembut sekaligus paling kejam.
Pada anak kecil, waktu memberi banyak ruang. Pada orang tua, waktu menyisakan banyak cerita. Dan di antara keduanya, kota ini berdiri tenang, berubah pelan-pelan, sambil menampung setiap rasa yang dititipkan warganya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana