RADAR TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, warga punya “ritme” unik soal kapan mereka keluar rumah, kumpul, atau sekadar jalan-jalan santai.
Kalau diperhatikan, aktivitas sosial di sini seperti mengikuti irama tersendiri tidak terlalu kacau, tapi selalu menarik.
Baca Juga: Liburan Nataru Lebih Nyaman Naik Apa? Ini Panduan Perbandingan Penggunaan Alat Transportasi
Momen paling ramai biasanya saat kondangan. Setiap minggu, setidaknya ada beberapa warga yang sibuk menyiapkan baju rapi, motor, atau mobil untuk menghadiri pernikahan tetangga atau saudara.
Kondangan di Tulungagung bukan sekadar makan-makan, tapi ajang silaturahmi ngobrol panjang soal kabar keluarga, bercanda dengan teman lama, dan tentu saja, ikut merayakan momen bahagia.
Selain itu, sawah menjadi “magnet” tersendiri. Saat musim tanam atau panen, warga yang punya ladang pasti keluar pagi-pagi.
Ada yang membawa cangkul, ada yang sekadar menengok kondisi tanaman. Aktivitas ini meski sederhana, tapi jadi bagian dari kalender sosial semacam kode waktu kalau banyak orang di sawah, berarti musimnya sedang ramai.
Alun-alun kota juga punya peran penting. Sore hari, terutama akhir pekan, tempat ini berubah menjadi ruang kumpul spontan.
Ada yang duduk santai di bangku, ngobrol ringan, atau sekadar menikmati jajanan kaki lima. Anak-anak berlarian, remaja bercengkerama, dan orang tua mengawasi sambil sesekali membeli minum.
Alun-alun bukan hanya titik bertemu, tapi semacam “jam biologis sosial” menandai kapan warga ingin bersantai dan berkumpul.
Jadi, kalau ingin memahami warga Tulungagung, perhatikan ritme mereka kondangan untuk momen bahagia, sawah untuk kerja dan silaturahmi alamiah, dan alun-alun untuk rileks dan ngobrol santai.
Semuanya terjadi dengan ringan, tapi selalu meninggalkan cerita kecil yang hangat. ****
Editor : Dharaka R. Perdana