Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kasus HIV/AIDS Remaja di Tulungagung Tembus 524 Orang, KPAD Ungkap 97 Persen Penularan dari Seksual

Nur Anizah • Selasa, 2 Desember 2025 | 04:39 WIB
Pita solidaritas untuk penderita HIV/AIDS (Freepik)
Pita solidaritas untuk penderita HIV/AIDS (Freepik)

RADAR TULUNGAGUNG – Kasus human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) di kalangan remaja Kabupaten Tulungagung kini menunjukkan perkembangan mengkhawatirkan.

Data terbaru tahun ini mencatat bahwa jumlah remaja yang terdeteksi positif HIV/AIDS mencapai 524 orang.

Angka tersebut menjadi sinyal serius bahwa penularan HIV/AIDS di kelompok usia muda masih terus meningkat dan perlu mendapatkan perhatian lebih dari berbagai pihak.

Sekretaris I Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Tulungagung Ifada Nur Rohmaniah menjelaskan, pola penemuan kasus HIV/AIDS pada kelompok remaja ternyata tidak jauh berbeda dengan kasus yang ditemukan pada kelompok usia dewasa.

Dia melanjutkan, sebanyak 97 persen kasus HIV/AIDS pada remaja ditularkan melalui jalur transmisi seksual atau penularan melalui hubungan seksual.

“Temuan kasus remaja itu mirip dengan yang dewasa. Artinya dari total temuan kasus itu 97 persen dari transmisi seksual, penularan lewat jalur seksual,” jelasnya ketika ditemui, Kamis (27/11).

Lanjut dia, penularan melalui hubungan seksual yang dimaksud terjadi karena para remaja tersebut telah melakukan aktivitas seksual sebelum menikah.

Dia menjelaskan, fenomena ini bahkan sudah mulai muncul sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

Pada usia tersebut, menurut dia, remaja sedang berada pada fase dengan ledakan emosi yang sangat tinggi sehingga rentan melakukan tindakan impulsif tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang, termasuk risiko penularan HIV.

Ketidakseimbangan emosi yang dialami para remaja tersebut tidak terjadi begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh sejumlah faktor penting.

Dia menyebut bahwa salah satu penyebab utamanya adalah adanya kekosongan peran dari orang tua maupun orang dewasa di sekitar mereka sehingga remaja tidak mendapatkan pendampingan yang memadai.

Selain itu, lingkungan pergaulan, lemahnya kemampuan kontrol diri, serta minimnya proses edukasi mengenai seksualitas beserta risiko yang menyertainya turut memperparah kondisi tersebut.

“Sebelum seseorang itu terinfeksi HIV, sebenarnya kan banyak ruang-ruang yang peran-peran itu mungkin kosong atau belum maksimal. Orang terinfeksi HIV itu sudah terminal lho, kan enggak ada orang tiba-tiba positif HIV,” ujarnya.

Dia melihat banyak remaja saat ini cenderung hanya memikirkan risiko kehamilan ketika memutuskan untuk melakukan hubungan seksual.

Padahal, kehamilan pada usia remaja sendiri dapat memicu berbagai dampak lanjutan yang saling berkaitan.

Misalnya, munculnya perilaku impulsif yang kemudian mendorong remaja untuk mengambil keputusan berisiko.

Termasuk kemungkinan terjerumus pada praktik prostitusi karena sebelumnya sudah terbiasa melakukan aktivitas seksual secara aktif.

Maka, sebagai upaya untuk menanggulangi meningkatnya kasus tersebut, KPAD mulai menjalankan sejumlah program pencegahan.

Di antaranya, memberikan edukasi yang berfungsi sebagai penyeimbang bagi remaja agar mereka memiliki pemahaman yang benar mengenai seksualitas.

Dia menyatakan, remaja kini sudah terpapar media sosial bahkan sejak usia dini.

Maka, tanpa adanya edukasi yang menjadi penyeimbang, paparan tersebut dapat menimbulkan dampak negatif, salah satunya kecenderungan menjadi seksual aktif.

Selain itu, KPAD juga mendorong remaja untuk berani bersikap asertif.

Yaitu, berani untuk berekspresi dan mampu menolak ajakan yang dapat menjerumuskan pada perilaku berisiko.

Dia menilai bahwa saat ini hanya sedikit anak yang berani bersikap tegas atau menyampaikan pendapatnya secara terbuka.

Hal ini, menurutnya, dipengaruhi oleh pola asuh sebagian orang tua yang lebih menginginkan anak-anak mereka patuh dan tidak menunjukkan penolakan.

Dia menegaskan, HIV/AIDS memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup remaja dalam jangka panjang.

Ketika seseorang dinyatakan positif, kondisi tersebut bukan hanya memengaruhi kesehatan fisiknya, melainkan juga mental dan sosialnya.

Banyak dari mereka membutuhkan waktu cukup lama sebelum akhirnya berani tampil dan mengakui keadaan mereka di hadapan orang lain.

Karena masih adanya rasa takut, stigma, dan tekanan psikologis yang harus mereka hadapi. (mg1/c1/din)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#positif hiv #tulungagung #hiv/aids #remaja