RADAR TULUNGAGUNG - Kemarahan warga Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung akhirnya pecah di depan kantor PT HK Gala dengan menggelar aksi damai pada Selasa (2/12) siang.
Setelah berbulan-bulan merasa diabaikan, massa aksi yang tergabung dalam Gerakan 212 Tulungagung menggugat keras dampak longsor yang diduga kuat dipicu proyek pembangunan jalur lintas selatan (JLS) di pesisir selatan Tulungagung itu..
“Jika hanya janji, tak menyelesaikan apa pun. Kami menuntut perbaikan dan tanggung jawab nyata,” kata Koordinator Aksi 212 wilayah selatan, Roni Prasetya.
Roni menyebut aksi hari ini (kemarin) berjalan damai namun sarat tekanan publik. Namun, jawaban PT HK Gala kali ini berbeda dibanding audiensi sebelumnya di DPRD, yang disebut warga ngambang, hanya penuh tanda tanya tanpa kepastian.
“Aspirasi masyarakat akhirnya benar-benar didengar. Ada pihak PT HK, Polres, koramil, kodim, kejaksaan, hingga perwakilan Kementerian PUPR hadir menyaksikan langsung,” jelasnya.
Pria ramah ini melanjutkan, PT HK Gala mengeklaim siap memulai perbaikan pada 5 Desember. Perwakilan dari Kementerian PUPR sendiri menjanjikan satu titik longsor besar yang mengancam permukiman warga akan diselesaikan dalam kurun waktu satu bulan setengah.
Baca Juga: Truk Tangki Pengangkut Solar Terguling di JLS Tulungagung - Trenggalek, Sopir Menghilang
Namun, dia mengingatkan tegas, jika ternyata janji perbaikan lingkungan terdampak longsor yang dilontarkan tidak ditepati, maka mereka akan menggelar aksi yang lebih besar dan menempuh jalur hukum.
“Kalau janji ini dilanggar, kita siapkan aksi yang jauh lebih besar. Bahkan akan menempuh jalur hukum,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Aksi 212 Tulungagung, Rahmat Putra Perdana, menambahkan bahwa persoalan ini sebetulnya sudah lama membara karena warga merasa PT HK Gala tidak pernah transparan sejak awal proyek.
“Tidak ada tembusan pemberitahuan ke desa. Tidak ada komunikasi. Tahu-tahu longsor terjadi, sumber air rusak, jalan desa putus, hingga batu-batu besar hampir menimpa rumah warga,” ujarnya.
Dana, sapaan akrabnya, mengaku bahwa satu minggu lalu telah meninjau lokasi dan menemukan bahwa laporan kerusakan jauh lebih parah dari yang beredar.
“Proyek ini memang skala nasional, tapi pihak yang bertanggung jawab di lapangan adalah PT HK Gala. Dan masyarakat sudah terlalu lama diberi janji,” kritiknya.
Karena itu, dalam rapat konsolidasi, mereka memutuskan tetap menggelar aksi besar hari ini meski sebelumnya sudah ada audiensi.
“Audiensi kemarin cuma menyisakan petisi. Warga butuh pakta integritas, bukan kertas bertanda tangan. Maka, aksi hari ini tetap dilakukan,” tegasnya.
Baca Juga: PII Jatim Gowes ke JLS, Kenang Karya Sekaligus Sosialisasikan UU Keinsinyuran
Dia juga menjelaskan bahwa sejak pagi ribuan warga bergerak dari titik awal dekat basecamp PT HK Gala, melintasi Majan, Ulingan, dan menuju kantor perusahaan.
Di sana, mereka membacakan tuntutan, termasuk penanganan longsor yang terus merusak jalan desa, karena membuat akses jalan desa licin dan rawan putus.
Selain itu pengembalian fungsi sumber air bersih warga yang rusak, normalisasi sungai dan saluran desa yang tertimbun material, penanganan ancaman batu besar yang hampir menimpa permukiman, serta pengawasan pergerakan material limbah yang selama ini dibuang sembarangan.
Baca Juga: JLS Sine Tulungagung, Pesona Laut Selatan dan Tumbuhnya Potensi Ekonomi Lokal
“Kerusakan itu nyata. Ayam, kambing, ikan warga hanyut tiap hujan. Rumah terancam. Masa warga harus menunggu korban dulu baru diperhatikan?” kecamnya.
Kemudian, setelah aksi dilakukan di kantor PT HK, pihak Kementerian PUPR, aparat penegak hukum, dan perwakilan perusahaan turun ke tiga titik longsor terburuk.
“Mereka lihat sendiri betapa parahnya kondisi lapangan. Baru setelah itu mereka menyatakan kesanggupan memperbaiki,” ungkap Dana.
Dia menegaskan bahwa pihaknya beserta warga setempat akan terus mengawal proses ini. “Kami ingin desa aman, air kembali normal, dan proyek JLS tidak lagi menjadi momok bagi warga,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana