Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Proyek JLS Tulungagung Jadi Momok Menakutkan Bagi Warga Desa Ngrejo, Hal Ini yang Sering Mereka Lakukan Saat Hujan Turun dengan Deras

Sandy Sri Yuwana • Jumat, 5 Desember 2025 | 02:31 WIB

Bongkahan batu besar di area proyek JLS di Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Bongkahan batu besar di area proyek JLS di Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Proyek Jalur Lintas Selatan (JLS) yang melintasi Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung justru jadi momok bagi warga setempat.

Warga di pesisir selatan Tulungagung itu setiap saat diliputi ketakutan, khususnya saat hujan turun. Alhasil semalaman harus begadang untuk mengantisipasi longsoran.

Di Dusun Kuning, RT 2 RW 1, Desa Ngrejo, Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung kehidupan warga tak lagi berjalan normal.

Sejak longsor pertama setahun lalu, yang diduga kuat berkaitan dengan pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS), kecemasan menjadi teman sehari-hari.

Baca Juga: Respons Tim PPS Kejati Jawa Timur di Luar Dugaan Sikapi Keluhan Warga Ngrejo, Bersikukuh Jenis Tanah di Proyek JLS Tulungagung Jadi Pemicu

Tidak ada lagi malam yang benar-benar tenang. Setiap derik suara dari arah tebing selalu dianggap sebagai tanda bahaya.

Septa Widiarto, 33, salah satu warga yang rumahnya berada di jalur rawan longsor, menggambarkan situasi itu dengan suara berat.

Menurut dia, kalau hujan, semua warga langsung siaga. Karena bebatuan dan tanah turun. "Kalau tidak waspada, bisa-bisa tanah itu ambrol tiba-tiba. Kami takut sekali,” ujarnya sambil menunjuk bekas alur longsoran yang kini menganga di samping rumah warga.

Siaga itu bukan sekadar berjaga dengan lampu menyala. Di Dusun Kuning, siaga berarti begadang sepanjang malam, menahan kantuk sambil memperhatikan pergerakan tanah, mendengarkan suara retakan, dan memastikan keluarga tetap aman.

Baca Juga: Protes Pembangunan JLS Tulungagung Picu Kerusakan Jalan Desa, Warga Desa Ngrejo Berunjuk Rasa di Depan Kantor PT HK Gala

“Kalau hujan satu malam saja, itu satu malam pula tidak ada yang tidur,” timpal Nyoto, warga lainnya.

Usianya sudah senja, namun setiap kali hujan turun, ia ikut berjaga penuh kecemasan. “Sudah satu tahun seperti ini. Tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak lagi.” ungkapnya ketika ditemui di area longsoran tebing.

Warga lain, Purnomo, menunjuk deretan pohon yang tumbang di area sumber mata air desa. Pohon-pohon besar yang sebelumnya menjadi pelindung alami, kini tergeletak tak berdaya, akar-akarnya terangkat akibat longsoran.

Bebatuan besar dan runcing dengan mudah turun ke pemukiman warga. “Itu pohon-pohon di mata air. Dulu jadi penyangga tanah. Sekarang hilang semua. Sumber air ikut rusak,” jelasnya.

“Kalau hujan besar, air bercampur lumpur turun deras. Batu juga ikut jatuh. Rumah kami ini seperti berada di kaki bom waktu yang sewaktu-waktu terjadi longsoran. Jika tidak ada solusi yang permanen ta tinggal menunggu waktu.” katanya.

Sejak longsor pertama, warga Dusun Kuning hidup dalam kondisi berjaga 24 jam. Mereka membentuk sistem piket mandiri. Ketika malam tiba dan hujan mulai rintik, warga saling membangunkan.

Tidak ada yang ingin mengambil risiko. “Kami trauma. Setiap dengar suara ‘gruk-gruk’ dari tebing sana, langsung keluar. Takut ada batu besar jatuh,” tambah Septa.

Rasa takut itu semakin menjadi karena beberapa kali batu berukuran besar pernah hampir menimpa rumah warga. Jalan desa pun rusak parah, licin, dan sulit dilalui setelah setiap hujan.

Baca Juga: Diduga Sebabkan Longsor, Warga Ngrejo Tuntut Tanggung Jawab Pelaksana Proyek JLS Tulungagung, Begini Dampak yang Mereka Rasakan

Warga menyambut baik kabar bahwa pada 5 Desember mendatang pihak penyedia jasa konstruksi, Kementerian PUPR, dan PT HK Gala berjanji akan memulai proses perbaikan.

Namun di balik harapan itu, tersimpan rasa skeptis. “Selama ini kami banyak diberi janji, Kami butuh bukti. Kami butuh kepastian. Kami ingin bisa tidur lagi tanpa takut mati tertimbun,” ujar Nyoto.

Sementara aksi besar yang dilakukan masyarakat Desa Ngrejo dan kelompok 212 Korwil Selatan beberapa hari terakhir membuat suara warga akhirnya terdengar.

Tetapi bagi warga Dusun Kuning, perjuangan belum selesai. “Perbaikan boleh dijanjikan. Tapi keselamatan kami tidak bisa menunggu lama. Setiap hujan, kami berhadapan langsung dengan bahaya,” ungkap warga resah.

Baca Juga: Truk Tangki Pengangkut Solar Terguling di JLS Tulungagung - Trenggalek, Sopir Menghilang

Di tengah kondisi yang mencekam ini, warga hanya ingin satu hal, hidup kembali normal, tanpa rasa takut setiap kali langit mendung.

Selama perbaikan belum benar-benar dimulai, Dusun Kuning tetap berjaga setiap malam. Karena bagi warga, ancaman longsor bukan lagi sekadar potensi bencana, tetapi kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.

“Kami ingin tidur pulas lagi. Kami ingin anak-anak bermain tanpa melihat batu-batu besar jatuh dari atas. Kami ingin desa kami aman seperti dulu," ujar Septa. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#JLS #tulungagung #jalur lintas selatan #desa ngrejo