RADAR TULUNGAGUNG – Hujan deras yang mengguyur wilayah Tulungagung pada Kamis (4/12) sore kembali memicu bencana di kawasan rawan longsor di lereng Gunung Wilis.
Salah satu titik terdampak berada di Desa Punjul, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung di mana tanah penopang tembok pagar rumah warga longsor dan menimpa teras.
Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Robinson Parsaoran Nadeak, menjelaskan bahwa kejadian berlangsung sekitar pukul 14.30.
Baca Juga: Kenapa Pesisir Utara Jawa Sering Mengalami Banjir Rob? Ini Penjelasan tentang Penyebab Utamanya
Hujan dengan intensitas tinggi membuat struktur tanah di sekitar tembok pagar rumah milik Pamudi, warga Dusun Genengan RT 09 RW 02, menjadi labil.
“Material tembok pagar sepanjang kurang lebih tujuh meter dan tinggi tiga meter roboh dan mengenai bagian teras rumah. Dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa, namun kerusakan fisik tetap perlu ditangani dengan cepat,” ujarnya.
Robinson mengatakan, sesaat setelah laporan masuk, tim Pusdalops langsung melakukan monitoring dan komunikasi dengan perangkat desa setempat.
Tim kemudian diterjunkan untuk melakukan assessment lapangan, termasuk memeriksa kondisi tanah, potensi longsor susulan, serta dampak struktural pada bangunan rumah.
Menurutnya, kawasan Punjul merupakan salah satu wilayah yang kerap masuk daftar pemantauan karena kontur tanah yang relatif miring dan mudah tergerus air saat hujan lebat.
Kondisi tersebut diperparah apabila saluran pembuangan air hujan tidak berjalan optimal.
“Assessment ini penting untuk memastikan keamanan rumah warga, sekaligus menentukan langkah penanganan lebih lanjut. Jika ditemukan titik rawan baru, kami akan melakukan rekomendasi teknis kepada warga maupun pemerintah desa,” tambahnya.
BPBD Tulungagung juga mengimbau masyarakat di wilayah perbukitan dan tepi tebing untuk meningkatkan kewaspadaan, terlebih pada puncak musim hujan.
Pihaknya terus melakukan pemantauan melalui WhatsApp group desa siaga bencana, media sosial, serta radio komunikasi VHF.
“Kami mengingatkan warga agar segera melapor jika melihat tanda-tanda awal longsor, seperti retakan tanah, pohon miring, atau suara gemeretak dari lereng,” tegas Robinson.
Petugas BPBD masih berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk upaya pembersihan material serta rencana mitigasi jangka pendek maupun panjang. ****
Editor : Dharaka R. Perdana