RADAR TULUNGAGUNG - Ada kota yang terasa biasa saat dilihat sekilas, tapi diam-diam menyimpan kekuatan untuk menarik kita pulang.
Tulungagung adalah salah satunya. Ketika kalender hampir habis, saat banyak tempat sibuk menghitung perayaan, kota ini justru tetap berjalan dengan caranya sendiri tenang, bersahaja, dan tidak tergesa-gesa.
Menjelang akhir tahun, pagi di Tulungagung masih dimulai dengan suara motor warga berangkat kerja, warung kopi kecil yang membuka pintu lebih awal, serta pasar yang tetap ramai oleh tawar-menawar sederhana.
Tidak ada hiruk-pikuk berlebihan. Semua seolah berkata hidup tidak harus selalu dirayakan dengan kembang api.
Baca Juga: Liburan yang Tidak Instagramable, Tapi Menenangkan Pikiran di Tulungagung
Di sinilah rasa “rumah” itu tumbuh. Rumah bukan sekadar tempat kembali, melainkan ruang untuk bernapas tanpa tuntutan. Tulungagung memberi itu.
Jalan-jalan yang sudah hafal langkah kaki, sudut kota yang tak berubah banyak, dan wajah-wajah yang terasa akrab meski tak saling kenal.
Di akhir tahun, ketika banyak orang sibuk mengejar resolusi, kota ini mengajarkan untuk sekadar berhenti sejenak dan menerima apa yang telah dilalui.
Sore hari menjelang malam, langit Tulungagung sering tampak muram, kadang ditemani hujan ringan. Namun justru di situlah keindahannya.
Tidak ada keharusan untuk keluar rumah atau ikut meramaikan apa pun. Duduk diam, mendengar hujan, dan mengingat satu tahun ke belakang terasa sudah cukup.
Tulungagung tidak menjanjikan kemewahan di penghujung tahun. Ia hanya menawarkan kejujuran bahwa hidup bisa tetap berjalan baik-baik saja tanpa sorak sorai. Bahwa pulang tidak selalu berarti liburan, melainkan kembali pada ritme yang paling kita pahami.
Ketika tahun hampir usai, Tulungagung tetap menjadi rumah. Tempat di mana waktu melambat, kenangan berdiam, dan kita diizinkan menjadi diri sendiri tanpa perlu menjelaskan apa pun. ****
Editor : Dharaka R. Perdana