RADAR TULUNGAGUNG - Di akhir tahun, banyak orang merasa harus ikut ke mana-mana. Harus liburan. Harus rame. Harus update.
Takut ketinggalan momen atau istilah populernya, FOMO. Namun Tulungagung punya cara sendiri untuk menutup tahun.Tenang. Biasa. Dan justru di situlah istimewanya.
Baca Juga: Sedang Trend Orang Beramai Ramai Mendaki Gunung, Sekadar FOMO atau Hobi Baru?
Liburan akhir tahun di Tulungagung tidak menuntut apa pun. Tidak perlu itinerary padat, tidak perlu mengejar tempat viral, apalagi membandingkan liburan sendiri dengan unggahan orang lain.
Di kota ini, liburan bisa sesederhana bangun pagi tanpa alarm, menikmati udara yang tidak tergesa, lalu memutuskan hari berjalan ke mana saja.
Pantai-pantai di selatan tetap ada. Sawah tetap hijau. Warung kopi tetap membuka pintu seperti biasa. Tidak ada euforia berlebihan, tapi ada ruang untuk bernapas. Di Tulungagung, liburan bukan tentang “ke mana”, melainkan “bagaimana rasanya”.
Baca Juga: FOMO Sebuah Kewajaran di Era Digital, Benarkah Bisa Mengganggu Kesehatan Mental?
Tanpa FOMO berarti tidak merasa tertinggal saat memilih tinggal di rumah. Menyeduh kopi sendiri, berbincang dengan keluarga, atau sekadar duduk diam mendengarkan hujan Desember.
Tidak ada yang perlu dibuktikan ke siapa pun.Di saat kota-kota besar sibuk merayakan pergantian angka, Tulungagung mengajarkan satu hal sederhana:hidup tidak selalu harus dirayakan dengan keramaian.
Akhir tahun tanpa FOMO di Tulungagung adalah tentang berdamai. Dengan ritme yang lebih pelan. Dengan hari-hari yang tidak spektakuler, tapi jujur.
Dan mungkin, justru dari liburan seperti inilah kita masuk ke tahun baru dengan kepala yang lebih tenang. Karena tidak semua kebahagiaan perlu terlihat.Sebagian cukup dirasakan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana