RADAR TULUNGAGUNG - Di banyak tempat, malam terakhir tahun 2025 ditutup dengan kembang api dan teriakan hitung mundur.
Di Tulungagung, sebagian orang memilih tempat yang lebih sunyi dapur rumah sendiri.
Asap masakan naik perlahan dari tungku atau kompor.
Bau bawang goreng bercampur dengan wangi kayu bakar yang masih setia dipakai di beberapa rumah desa.
Panci tak hanya mengaduk sayur, tapi juga kenangan tentang ibu yang dulu memasak di jam yang sama, tentang ayah yang duduk diam sambil menunggu nasi matang.
Cerita lama mengalir tanpa naskah. Tentang tahun yang berat, tentang panen yang tak selalu ramah, tentang anak-anak yang kini tumbuh lebih cepat dari doa.
Tak ada layar yang menyela. Hanya suara sendok, tawa kecil, dan jeda hening yang nyaman.
Di sudut dapur, jam dinding berdetak pelan. Tak tergesa.
Seolah mengingatkan bahwa waktu tak perlu dikejar dengan sorak-sorai. Ia cukup dilalui dengan sabar, dengan hangat.
Menjelang tengah malam, kopi diseduh. Teh panas dibagi rata. Tak ada resolusi yang diumumkan keras-keras.
Harapan disimpan diam-diam, di antara uap gelas dan doa pendek sebelum meneguk.
Malam terakhir 2025 di Tulungagung tak ramai, tapi penuh.
Karena di dapur, manusia tak hanya memasak makanan mereka merawat ingatan, menutup tahun dengan kejujuran, dan menyambut esok dengan rasa pulang. ****
Editor : Dharaka R. Perdana