RADAR TULUNGAGUNG - Tidak semua pergantian tahun dirayakan dengan kembang api dan terompet. Di Tulungagung, ada hal yang jauh lebih setia menyambut detik-detik pergantian angka lampu jalan.
Baca Juga: Laron di Musim Hujan: Antara Hama, Camilan, dan Lampu Penerang di Tulungagung
Saat kalender bersiap mengganti halaman, lampu-lampu di sepanjang jalan kota Tulungagung tetap menyala seperti biasa.
Tidak lebih terang, tidak juga redup. Mereka berdiri di tempatnya, memantulkan cahaya di aspal yang mungkin masih basah oleh hujan akhir Desember. Tidak ikut menghitung mundur, tidak tahu soal resolusi, tapi selalu hadir.
Baca Juga: Warga Tulungagung Wajib Tahu! Ada Penyebab Lampu Indikator Mesin Menyala dan Cara Mengatasinya
Lampu jalan di Tulungagung seperti pengingat kecil bahwa hidup tidak selalu tentang momen besar. Ada rutinitas yang tetap berjalan meski tahun berganti.
Warung kopi masih buka, motor-motor lewat dengan kecepatan yang sama, dan beberapa orang pulang membawa sisa lelah dari setahun penuh bekerja.
Baca Juga: Liburan Tulungagung yang Tidak Berisik di Telinga untuk Menyambut Pergantian Tahun, Ada yang Tahu?
Bagi sebagian orang, cahaya lampu jalan adalah teman pulang paling jujur. Ia menemani langkah tanpa bertanya apakah tahun ini berhasil atau gagal.
Ia hanya memastikan jalan terlihat, cukup aman untuk dilalui, cukup terang untuk tidak merasa sendirian.
Di malam pergantian tahun, ketika sebagian kota mungkin terjaga menunggu pukul 00.00, Tulungagung memilih caranya sendiri.
Lampu jalan tetap menyala sebagaimana mestinya menjadi saksi bahwa bertahan sampai akhir tahun saja sudah layak dihargai.
Mungkin inilah cara Tulungagung merayakan pergantian tahun bukan dengan sorak sorai, melainkan dengan konsistensi.
Dengan cahaya yang tidak berubah, namun selalu ada. Seperti harapan kecil yang tidak perlu diumumkan, cukup dijaga agar tetap menyala.
Karena terkadang, yang kita butuhkan untuk menyambut tahun baru bukanlah kilau berlebihan, melainkan satu cahaya sederhana yang memastikan kita bisa terus melangkah ke depan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana