RADAR TULUNGAGUNG - Di banyak tempat, akhir tahun identik dengan suara petasan, pesta yang dipaksakan meriah, dan hitung mundur yang seolah wajib dirayakan.
Namun di Tulungagung, 2025 ditutup dengan cara yang jauh lebih sunyi dan justru terasa jujur.
Warung-warung kecil di sudut jalan tetap membuka pintu seperti biasa. Lampu neon mereka menyala tanpa niat ikut lomba gemerlap.
Kopi diseduh dengan takaran yang sama, gula diaduk tanpa terburu-buru. Tidak ada spanduk besar bertuliskan “Selamat Tahun Baru”, tapi ada bangku kayu yang selalu siap diduduki siapa saja.
Di sinilah kesetiaan itu bekerja. Ketika kembang api hanya meledak sesaat lalu menghilang, warung memilih bertahan.
Ia tidak menjanjikan harapan besar, tidak pula memaksa siapa pun untuk bahagia. Ia hanya hadir. Dan bagi banyak orang, kehadiran sederhana itu sudah cukup menyelamatkan hari-hari terakhir di tahun yang panjang.
Orang-orang datang tanpa rencana besar. Ada yang singgah sepulang kerja, ada yang sengaja menunda pulang karena rumah terasa terlalu sepi.
Mereka duduk, memesan kopi atau teh hangat, lalu diam. Percakapan mengalir pelan tentang harga beras, hujan yang datang terlambat, atau sekadar mengeluh soal badan yang makin cepat lelah.
Tulungagung di akhir 2025 tidak sibuk merayakan pencapaian. Ia memilih menjaga ritme. Bahwa hidup tidak selalu harus naik level setiap pergantian kalender.
Bahwa bertahan saja, tanpa runtuh, sudah merupakan keberhasilan yang jarang diberi tepuk tangan.
Saat malam tahun baru datang, kembang api mungkin tetap ada. Namun yang benar-benar setia justru warung yang tidak tutup.
Lampu yang tidak dipadamkan. Kopi yang tetap hangat meski jam sudah lewat tengah malam.
Di Tulungagung, akhir tahun tidak ditutup dengan ledakan. Ia ditutup dengan ketekunan kecil dan mungkin itulah alasan banyak orang masih bisa bernapas lega, menyambut tahun berikutnya tanpa banyak tuntutan, hanya dengan rasa cukup. ****
Editor : Dharaka R. Perdana