RADAR TULUNGAGUNG - Operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Tulungagung mulai menemui ganjalan.
Belakangan, muncul keluhan terkait keterlambatan pembayaran yang berdampak pada kelancaran program di tingkat bawah. Kondisi ini juga jadi perhatian Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah.
Baca Juga: Distribusi Perdana SPPG Polres Tulungagung 2 di Desa Jarakan, Dua Desa Terima 966 Paket Makanan
Koordinator BGN Wilayah Tulungagung, Sebrina Mahardika, tidak menampik adanya kondisi tersebut. Menurut dia, mekanisme pencairan dana sepenuhnya berada dalam kendali pejabat pembuat komitmen (PPK).
Pihaknya di daerah mengaku tidak mengetahui secara pasti dinamika apa yang terjadi di internal pusat hingga menyebabkan distribusi anggaran ke SPPG mengalami hambatan.
Kondisi ini memaksa pengelola di tiap titik pelayanan untuk bersabar. Pasalnya, otoritas daerah tidak memiliki kewenangan lebih selain memantau jalannya sistem.
Sebrina menegaskan bahwa untuk saat ini, langkah paling realistis yang bisa dilakukan oleh tiap SPPG adalah menunggu kepastian pencairan.
“Kalau itu kembali ke PPK-nya BGN. Mungkin kita nggak tahu yang terjadi di pusat seperti apa, dari kami juga kurang tahu,” ucapnya.
Disinggung mengenai kemungkinan adanya kelalaian administratif, seperti halnya kesalahan input data oleh tim akuntan di tiap unit, Sebrina menepis anggapan tersebut.
Dia meyakini sistem yang digunakan sudah terintegrasi secara otomatis. Jika terdapat kesalahan teknis atau kekeliruan data, sistem dipastikan akan memberikan notifikasi atau keterangan secara langsung.
“Saya rasa tidak. Kalau kesalahan atau tidak, itu kan di sistem kami pasti akan ada keterangannya,” imbuhnya.
Persoalan ini kian nyata saat melihat kasus di SPPG Waung. Di lokasi tersebut, dana operasional dilaporkan tidak mencukupi untuk meng-cover kebutuhan pada dua hari di akhir pekan.
Akibatnya, sempat muncul kemungkinan adanya kesalahan penghitungan estimasi anggaran oleh tenaga akuntan setempat.
Namun, Sebrina menerangkan bahwa hal itu lebih disebabkan melesetnya ekspektasi waktu pencairan.
Pihak SPPG diduga memprediksi dana akan turun sebelum akhir pekan, namun realitanya anggaran tersebut justru tertahan di pusat.
“Mungkin tidak cukup. Itu mungkin ekspektasinya kan akan turun dananya. Tapi ternyata dia terlambat itu, sehingga untuk pembayaran tertunda,” sebutnya. ****
Editor : Dharaka R. PerdanaSumber : Radar Tulungagung