RADAR TULUNGAGUNG - Tanpa aba-aba, tanpa sorak, tanpa hitung mundur yang berisik.
Tahun di Tulungagung berakhir sebagaimana ia berjalan sejak awal pelan, wajar, dan tidak merasa perlu dirayakan secara berlebihan.
Pagi tetap datang dengan rutinitasnya. Warung kopi membuka pintu, air panas mengepul dari gelas-gelas kaca, dan obrolan kecil berlangsung tanpa topik resolusi.
Tidak ada kalimat “tahun baru harus berubah”, karena di sini hari cukup dijalani, satu per satu.
Menjelang malam, suasana pun tak banyak bergeser. Jalanan tetap diterangi lampu yang sama, motor melintas seperti biasa, dan sebagian orang memilih pulang lebih awal.
Bukan karena tak ada harapan, tetapi karena esok hari tetap menunggu dengan pekerjaan, kebutuhan, dan kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.
Di Tulungagung, menutup tahun bukan soal menandai akhir, melainkan menyadari kesinambungan.
Bahwa hidup tidak berhenti hanya karena kalender berganti.
Bahwa bertahan sampai penghujung tahun, tanpa drama dan tanpa paksaan untuk bahagia, sudah merupakan pencapaian tersendiri.
Mungkin tidak ada pesta besar, tidak ada kembang api yang memenuhi langit.
Namun justru di sanalah maknanya. Hari tetap mengalir, dan orang-orang tetap berjalan.
Tahun boleh berakhir, tetapi hidup tidak pernah benar-benar berhenti. ****
Editor : Dharaka R. Perdana