RADAR TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, tiga hari terakhir sebelum pergantian tahun benar-benar berakhir berjalan seperti hari biasa.
Tidak ada hitung mundur, tidak ada terompet, tidak ada agenda refleksi yang dipajang di mana-mana.
Tanggal 28 hingga 31 Desember lewat dengan langkah pelan seperti kota yang sengaja menahan napas, memberi ruang bagi warganya untuk tidak tergesa.
Pagi tetap dimulai dengan suara sepeda motor yang sama. Warung buka seperti biasa. Pasar masih ramai oleh tawar-menawar kecil yang tidak pernah masuk catatan akhir tahun.
Tidak ada yang bertanya, “Sudah sejauh apa hidupmu tahun ini?” Karena hidup di sini tidak menunggu jawaban.
Bagi banyak orang, hari-hari ini justru terasa paling jujur. Tidak ada kewajiban untuk terlihat baik-baik saja, juga tidak ada tuntutan untuk merangkum kegagalan atau keberhasilan. Cukup bangun, bekerja seperlunya, pulang, lalu istirahat. Sederhana. Tapi cukup.
Baca Juga: Sempat Mangkrak Setahun, Gedung Baru Puskesmas Kedungwaru di Tulungagung Sudah Beroperasi Penuh
Hidup tetap memanggil bukan dengan teriakan, melainkan dengan rutinitas kecil yang tidak bisa ditinggalkan. Piring kotor tetap harus dicuci.
Anak tetap perlu diantar. Kopi tetap diseduh, meski rasanya biasa saja. Justru di situlah panggilan itu terasa paling nyata: hidup tidak berhenti hanya karena kalender hampir habis.
Di tanggal-tanggal ini, Tulungagung seperti berkata pelan, “Tidak apa-apa kalau kamu belum siap menutup apa pun.”
Tidak semua orang mampu berdamai tepat waktu. Tidak semua luka bisa dibereskan sebelum tahun berganti. Dan kota ini tidak memaksa.
Malam datang tanpa perayaan. Lampu-lampu rumah menyala seperlunya. Beberapa orang memilih tidur lebih awal, seolah menyimpan tenaga untuk hari-hari yang entah akan bagaimana. Tidak ada janji besar, hanya harapan kecil besok bisa bangun lagi.
28–31 Desember di Tulungagung mengajarkan satu hal sederhana bahwa hidup tidak selalu memanggil dengan sorak.
Kadang ia hadir dalam bentuk paling sunyi, tapi tetap meminta kita untuk menjawab hadir saja sudah cukup. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup untuk menutup tahun. ****
Editor : Dharaka R. Perdana