RADAR TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, tiga hari terakhir bulan Desember tidak pernah benar-benar terasa seperti garis akhir.
Tidak ada hitung mundur yang memaksa. Tidak ada pertanyaan berulang tentang apa saja yang sudah dicapai, apa yang gagal, dan apa yang harus dikejar tahun depan.
Tanggal 28 hingga 31 Desember berjalan pelan seperti hari biasa yang sengaja dibiarkan tetap sederhana.
Baca Juga: Jika pada 2025 Begitu Melelahkan Jiwa dan Ragamu, Tulungagung Adalah Tempat untuk Duduk Beristirahat
Pagi datang tanpa tuntutan. Warung kopi tetap buka dengan jam yang sama, menyeduh rasa yang tidak berubah.
Obrolan ringan lebih sering berisi hal-hal kecil: cuaca yang agak lembap, jalanan yang sedikit lebih lengang, atau rencana pulang lebih cepat. Tidak ada evaluasi hidup di meja-meja kayu itu. Tidak ada resolusi yang harus diumumkan.
Di jalanan, kota tampak seperti sedang memberi jeda. Becak melaju santai, motor lewat tanpa tergesa. Lampu toko menyala seperti biasa tidak lebih terang, tidak pula redup. Tulungagung seakan sepakat tiga hari ini bukan milik ambisi, melainkan milik napas.
Yang terasa justru ruang. Ruang untuk tidak produktif tanpa rasa bersalah. Ruang untuk diam tanpa harus menjelaskan alasan.
Di waktu ini, tidak ada yang bertanya mengapa kamu belum sampai di mana-mana. Tidak ada yang mengingatkan bahwa usia bertambah atau target belum tercapai. Kota memilih tidak menuntut cerita.
Malam pun jatuh dengan tenang. Banyak orang memilih pulang lebih awal, menutup hari tanpa perayaan. Bukan karena lelah, melainkan karena sadar istirahat juga bentuk bertahan.
Di rumah-rumah sederhana, televisi menyala seperlunya, ponsel diletakkan, dan pikiran dibiarkan turun volumenya.
28–31 Desember di Tulungagung bukan tentang penutupan tahun yang megah. Ini tentang waktu yang tidak menagih apa pun.
Waktu yang membiarkan orang-orangnya hadir apa adanya tanpa target, tanpa evaluasi, tanpa janji-janji baru yang harus ditepati.
Mungkin itulah caranya kota ini merawat warganya. Dengan memberi tiga hari yang tidak menanyakan apa-apa.
Karena sebelum tahun benar-benar berganti, manusia perlu diingatkan bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan. Kadang, cukup dijalani. ****
Editor : Dharaka R. Perdana