RADAR TULUNGAGUNG - Desa Tunggangri, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung mulai menerapkan strategi baru dalam memperkuat ketahanan pangan desa.
Pemdes Tunggangri bersama kelompok tani pemuda resmi mengembangkan budidaya melon hidroponik berbasis greenhouse, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada pola pertanian konvensional yang rentan terhadap cuaca dan hama.
Kepala Desa Tunggangri, Sri Lailatin, menyampaikan bahwa program ini digerakkan oleh petani muda di Dusun Ngrawan yang selama ini dikenal aktif mengembangkan pertanian hortikultura.
Baca Juga: Bangun Bangsal Pascapanen, Perekonomian Desa Tunggangri Tulungagung Lebih Paten
Melalui sistem hidroponik, tanaman melon dibudidayakan tanpa media tanah, melainkan menggunakan paralon, air, dan nutrisi terkontrol di dalam greenhouse tertutup.
“Pertanian harus berani beradaptasi. Sistem ini memang membutuhkan modal dan pendampingan, tetapi dampaknya jangka panjang bagi ketahanan pangan dan ekonomi warga,” ujar Sri Lailatin, Selasa (23/12) lalu.
Data pengelola menunjukkan, satu unit greenhouse di Desa Tunggangri mampu menampung sekitar 710 batang melon.
Baca Juga: Sedekah Bumi, Pemdes Tunggangri Tulungagung Resmikan TMB untuk Kemajuan Bidang Pertanian
Sistem tertutup tersebut dinilai lebih aman dari serangan hama serta cuaca ekstrem, terutama saat musim hujan. Perawatan tanaman dilakukan secara intensif dengan pengaturan air dan nutrisi yang terukur.
Sementara itu Ketua BUMDes Srikandi Farm Tunggangri, Eko Siswoyo, mengungkapkan bahwa pembangunan greenhouse melon hidroponik merupakan tindak lanjut dari program ketahanan pangan pemerintah.
Sebelumnya, kelompok tani telah berpengalaman menanam melon secara hambaran menggunakan media tanah, sehingga transisi ke sistem hidroponik dinilai lebih siap secara teknis.
“Perawatan lebih praktis dan risiko gagal panen lebih kecil. Tantangan utamanya justru pada kebutuhan listrik 24 jam. Karena itu kami siapkan genset sebagai langkah antisipasi,” jelas Eko.
Saat ini, greenhouse menanam dua varietas melon premium, salah satunya jenis lavender yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran.
Untuk menjaga kualitas, setiap batang hanya dipertahankan satu hingga dua buah dengan bobot rata-rata mencapai dua kilogram. Masa panen diperkirakan sekitar 65 hari setelah tanam.
Selain melon, kelompok tani juga mulai mengembangkan komoditas sayuran seperti selada sebagai tanaman pendamping.
Seluruh hasil pertanian dikelola melalui BUMDes Srikandi Farm dan dipasarkan langsung ke konsumen maupun melalui pasar desa tanpa perantara tengkulak.
Baca Juga: Lebih Dekat Perangkat Desa Tunggangri, Mahmud Ashari, Sempat Coba Jagung Kini Fokus Tanam Cabai
Pemdes Tunggangri menegaskan bahwa hasil usaha pertanian modern ini akan diputar kembali untuk pembangunan desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, pengelola juga merancang pengembangan wisata petik melon berbasis desa sebagai sumber pendapatan baru.
“Ketahanan pangan harus dimulai dari desa dan dikelola secara bersama. Ini bukan hanya soal panen, tapi soal masa depan desa,” tegas Sri Lailatin. ****
Editor : Dharaka R. Perdana