RADAR TULUNGAGUNG - Tidak semua perjuangan butuh saksi. Di Tulungagung, penghujung 2025 berjalan dengan langkah yang tenang hampir tidak terdengar.
Tidak ada hitung mundur yang berlebihan, tidak ada unggahan panjang tentang pencapaian, tidak juga resolusi yang ditulis rapi lalu dilupakan.
Yang ada justru rutinitas kecil yang terus dijalani, seolah bertahan hidup adalah sesuatu yang biasa, bukan prestasi.
Pagi tetap dimulai dengan bunyi panci di dapur. Warung kopi masih menyeduh minuman untuk pelanggan yang sama, dengan cerita yang juga itu-itu saja.
Orang-orang berangkat kerja tanpa sempat memikirkan apakah tahun ini layak dirayakan. Mereka hanya tahu satu hal hari ini harus dijalani, seperti kemarin, seperti esok.
Di sudut-sudut kota, ada mereka yang bertahan dalam diam. Bertahan dari lelah yang tidak sempat diceritakan, dari kecewa yang tidak cukup penting untuk diumumkan.
Tidak ada tepuk tangan untuk itu. Tidak ada sorotan. Tapi justru di situlah kekuatannya bertahan tanpa perlu diakui.
Tulungagung mengajarkan bahwa hidup tidak selalu soal naik kelas atau melompat jauh. Kadang hidup hanya soal tidak menyerah hari ini.
Soal masih mau bangun, masih mau makan, masih mau menyapa orang lain meski hati sedang biasa saja, atau bahkan sedang berat.
Penghujung 2025 di Tulungagung bukan tentang penutupan besar. Ia lebih mirip jeda pendek sebelum melanjutkan napas. Tidak megah, tidak dramatis, tapi jujur.
Kota ini tidak meminta warganya untuk tampak kuat cukup tetap ada. Dan mungkin, cara bertahan yang tidak pernah dipamerkan inilah yang paling manusiawi. ****
Editor : Dharaka R. Perdana