Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tulungagung Tidak Menanyakan Apa yang Hilang Tahun Ini, Bumi Ngrowo Justru Memilih untuk Menerima

Yoga Dany Damara • Selasa, 30 Desember 2025 | 06:44 WIB
Saat tahun hampir selesai, Tulungagung tidak memaksa siapa pun untuk merangkum hidupnya. Ia hanya menyediakan tempat untuk bernapas. Untuk pulang lebih awal.
Saat tahun hampir selesai, Tulungagung tidak memaksa siapa pun untuk merangkum hidupnya. Ia hanya menyediakan tempat untuk bernapas. Untuk pulang lebih awal.

RADAR TULUNGAGUNG - Tulungagung tidak pernah bertanya apa yang gagal tahun ini.

Tulungagung tidak meminta daftar kehilangan, tidak menuntut cerita tentang rencana yang gugur satu per satu.

Kota ini seperti paham tidak semua hal perlu diucapkan agar bisa diterima.

Di penghujung tahun, Tulungagung tetap berjalan dengan cara yang sama.

Pagi tetap datang tanpa upacara. Warung tetap buka meski kalender hampir habis.

Jalanan tidak berubah drastis, hanya sedikit lebih lengang, seolah memberi ruang bagi mereka yang lelah menyimpan banyak hal di kepala.

Tidak ada spanduk besar yang mengingatkan apa saja yang seharusnya tercapai. Tidak ada suara yang mendesak untuk “lebih baik tahun depan”.

Di sini, hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang didapat, tapi dari seberapa lama seseorang mampu bertahan tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Tulungagung memilih menerima.Menerima bahwa ada mimpi yang belum jadi kenyataan. Menerima bahwa ada hubungan yang berakhir tanpa penjelasan.

Menerima bahwa sebagian orang hanya mampu sampai di titik “cukup hidup” tahun ini dan itu sudah sangat berarti.

Di sudut-sudut kota, orang-orang duduk diam di warung kopi, menatap gelas yang sama, memikirkan hal yang mungkin tidak pernah dibicarakan.

Tidak ada pengakuan, tidak ada pembenaran. Hanya jeda. Dan terkadang, jeda itulah yang menyelamatkan.

Kota ini mengajarkan satu hal sederhana tidak semua kehilangan perlu dirayakan dengan air mata, dan tidak semua kegagalan harus dikejar maknanya.

Ada waktu di mana menerima jauh lebih penting daripada memahami.

Saat tahun hampir selesai, Tulungagung tidak memaksa siapa pun untuk merangkum hidupnya. Ia hanya menyediakan tempat untuk bernapas.

Untuk pulang lebih awal. Untuk tidur tanpa memikirkan apa yang tertinggal. Karena mungkin, bertahan sampai hari ini tanpa banyak bertanya sudah cukup. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #bertanya #tahun