RADAR TULUNGAGUNG - Tidak semua malam di akhir tahun layak dikenang. Di Tulungagung, banyak malam berlalu tanpa suara meriah, tanpa kamera yang menyala, tanpa kalimat penutup yang ingin diulang di kemudian hari.
Malam-malam itu berjalan biasa saja. Jalanan tetap sepi. Warung kopi menutup pintu lebih cepat. Televisi menyala hanya sebagai pengisi sunyi, bukan hiburan.
Tidak ada yang merasa perlu mendokumentasikan apa pun, karena memang tidak ada yang terasa istimewa.
Dan justru di situlah letak kejujurannya.Bagi sebagian orang, malam-malam terakhir tahun bukan momen refleksi besar, melainkan waktu untuk sekadar bertahan.
Duduk diam, memandangi jam dinding, menunggu waktu lewat tanpa berharap apa-apa. Tidak semua hidup perlu dirangkum. Tidak semua perasaan harus diberi makna.
Di Tulungagung, malam yang tidak ingin diingat bukan berarti malam yang gagal. Ia hanya tidak ingin disimpan.
Seperti napas panjang setelah hari yang melelahkan datang, lalu pergi begitu saja.Tidak ada unggahan, tidak ada cerita, tidak ada kesimpulan.Hanya tubuh yang akhirnya boleh diam.
Kadang, nilai sebuah malam justru terletak pada ketidakhadirannya di ingatan. Karena tidak semua yang kita inginkan hadirkan di depan mata. ****
Editor : Dharaka R. Perdana