RADAR TULUNGAGUNG – Hingga pertengahan Desember 2025, pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru di Tulungagung mencapai 67 titik.
Jumlah itu masih jauh dari target ideal 100 unit yang ditetapkan. Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Tulungagung mengeklaim untuk mempercepat capaian target, termasuk pemenuhan syarat-syarat administratif.
Koordinator BGN wilayah Tulungagung, Sebrina Mahardika, mengungkapkan update terbaru terkait perkembangan SPPG.
Dia menyebutkan bahwa per Kamis (11/12), total unit yang sudah beroperasi atau running mencapai 67 titik.
"Total sekarang ada 67. Jadi per hari ini ada dua SPPG yang running itu di Ngunut terus Jarakan, (Kecamatan) Gondang. Total 67 per hari ini," tegasnya.
Meskipun sudah beroperasi, tidak semua dari 67 unit layanan tersebut telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), dokumen penting untuk menjamin kualitas dan kebersihan layanan gizi yang diberikan.
Baca Juga: Distribusi Perdana SPPG Polres Tulungagung 2 di Desa Jarakan, Dua Desa Terima 966 Paket Makanan
Sebrina mengakui bahwa proses pengurusan sertifikat ini masih berjalan. "Ada di Sambirobyong, terus Bago, Kedungcangkring sudah keluar. Berarti tiga (SPPG mengantongi SLHS). Yang lainnya dalam proses pengajuan," terangnya.
Sementara itu, unit yang sedang dalam proses persiapan pembangunan juga cukup banyak, diperkirakan mencapai 60 unit.
Terkait target 100 unit SPPG, Sebrina mengakui sisa unit yang harus dikejar cukup signifikan mengingat waktu yang semakin mepet di akhir tahun anggaran.
Namun, BGN Tulungagung memastikan akan terus berupaya mengejar kekurangan tersebut.
Selain itu, BGN juga melihat adanya perluasan penerima manfaat ke depan. Jika sebelumnya fokus pada siswa, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui (B3), cakupan layanan berpotensi diperluas.
Sebrina mengatakan bahwa potensi penerima manfaat akan terus berkembang. "Kalau idealnya itu kan kita penerima manfaat berkembang terus. Yang mungkin sebelumnya hanya siswa dan B3, itu nanti mungkin kita juga sudah mulai diminta untuk mendatangkan anak-anak yang putus sekolah," paparnya.
Mengenai sisa target 33 unit, BGN tidak menetapkan batas waktu kaku di akhir tahun, tetapi menyesuaikan dengan kesiapan lapangan. Dia memastikan akan terus memonitor perkembangan tiap unit layanan.
"Untuk ngejar sisanya, kita tetap mengikuti progres dari tiap SPPG-nya," tutup Sebrina Mahardika. ****
Editor : Dharaka R. Perdana