RADAR TULUNGAGUNG - Tulungagung menutup 2025 tanpa banyak suara. Tidak ada terompet keberhasilan yang dipaksa berbunyi, tidak pula parade angka-angka yang meminta dibanggakan.
Kota ini seperti tahu tidak semua orang punya tenaga untuk merayakan kemenangan. Sebagian hanya ingin tiba di ujung tahun dengan tubuh utuh dan hati yang tidak makin retak.
Di hari-hari terakhir Desember, Tulungagung terasa berjalan pelan.
Warung tetap buka, lampu-lampu rumah menyala seperti biasa, dan jalanan tidak berubah menjadi panggung evaluasi hidup.
Di sini, menutup tahun bukan tentang “sudah sejauh apa”, melainkan “masih sanggup sampai di sini”.
Cara paling manusiawi menutup 2025 mungkin memang seperti ini.
Tidak memaksa diri merangkum segalanya, tidak menyiksa ingatan untuk menemukan makna besar dari setiap peristiwa.
Cukup mengakui bahwa setahun terakhir tidak selalu ramah dan itu tidak apa-apa. Bertahan saja sudah sebuah kerja keras yang jarang diberi tepuk tangan.
Banyak orang di Tulungagung menjalani tahun ini dengan cara yang sunyi. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur. Tidak ada unggahan inspiratif, tidak ada resolusi yang dirayakan.
Namun justru di situlah kemanusiaannya terasa hidup dijalani apa adanya, tanpa perlu terlihat hebat di mata siapa pun.
Menutup 2025 secara manusiawi berarti berhenti sebentar dari tuntutan menjadi “lebih”. Lebih sukses, lebih kuat, lebih bahagia.
Di Tulungagung, akhir tahun memberi isyarat sederhana cukup jangan menambah luka. Jika bisa tersenyum tipis, syukur. Jika hanya bisa bernapas lega, itu pun sudah cukup.
Kota ini tidak bertanya apa yang gagal dicapai. Ia seolah hanya berkata pelan, “Kamu sudah sampai sejauh ini.”
Dan mungkin, bagi banyak orang, kalimat itu lebih menyelamatkan daripada seribu motivasi.
Saat kalender hampir berganti, Tulungagung mengajarkan satu hal kecil tapi penting menutup tahun tidak harus megah.
Kadang, yang paling manusiawi adalah menerima diri sendiri apa adanya lelah, belum selesai, tapi masih di sini. ****
Editor : Dharaka R. Perdana