RADAR TULUNGAGUNG - Tanggal 31 Desember sering digambarkan sebagai garis akhir.
Kalender hampir habis, hitungan mundur sudah disiapkan, dan banyak orang menunggu malam dengan harapan tahun berganti membawa sesuatu yang baru.
Namun di Tulungagung, hari itu tetap pagi seperti biasa. Matahari tetap terbit tanpa pengumuman, dan sebagian orang tetap berangkat kerja tanpa seremoni apa pun.
Ada yang membuka toko kecil di pinggir jalan, meski tahu pembeli tak akan seramai hari biasa.
Ada yang menarik becak, menjaga parkiran, mengaduk adonan di dapur, atau duduk di balik meja kantor dengan tumpukan pekerjaan yang tak mengenal tanggal merah.
Bagi mereka, 31 Desember bukan penutup cerita, hanya satu halaman lain yang harus dilalui.
Di saat sebagian orang menyiapkan resolusi dan kembang api, mereka menyiapkan tenaga.
Bukan karena tak ingin merayakan, melainkan karena hidup meminta keberlanjutan.
Tagihan tetap datang, perut tetap lapar, dan esok hari tetap membutuhkan persiapan. Kalender boleh berganti, tapi kebutuhan hidup tidak pernah ikut libur.
Tulungagung seolah memahami itu. Kota ini tidak menuntut warganya untuk berhenti sejenak hanya demi simbol pergantian tahun.
Jalanan tetap memberi ruang bagi langkah-langkah sederhana: motor yang melaju pelan, warung yang tetap buka, lampu-lampu toko yang menyala tanpa hiasan berlebihan.
Tidak ada paksaan untuk bahagia berlebihan, tidak ada keharusan merayakan.
Ada ketenangan tersendiri dalam bekerja di hari terakhir tahun. Seperti pengakuan sunyi bahwa bertahan pun sudah cukup.
Bahwa tidak semua orang punya kemewahan untuk berhenti, dan itu bukan sesuatu yang perlu disesali.
Bekerja di 31 Desember bukan tanda kalah, melainkan bukti bahwa hidup terus dijaga, meski tanpa sorak.
Saat malam datang dan hitungan mundur terdengar dari kejauhan, mereka mungkin tetap di jalan, di dapur, di ruang kerja, atau dalam perjalanan pulang.
Tidak ikut menghitung detik, tapi ikut menjaga agar hari esok tetap bisa berjalan.
Dan mungkin, di situlah makna akhir tahun yang paling jujur bukan tentang pesta atau penutupan, melainkan tentang orang-orang yang diam-diam memastikan hidup tetap berlanjut.
Di Tulungagung, 31 Desember mengajarkan bahwa kalender boleh habis, tapi kehidupan tidak pernah benar-benar berhenti.***
Editor : Vidya Sajar Fitri