Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Hari Terakhir 2025 di Tulungagung yang Membiarkan Kita Menjadi Manusia Seutuhnya, Inilah yang Harus Dilakukan

Yoga Dany Damara • Kamis, 1 Januari 2026 | 06:36 WIB

Di hari terakhir tahun, Tulungagung tidak berubah menjadi kota yang menuntut perayaan. Tidak ada keharusan untuk tersenyum lebar, menyalakan kembang api, atau menyusun resolusi yang terdengar
Di hari terakhir tahun, Tulungagung tidak berubah menjadi kota yang menuntut perayaan. Tidak ada keharusan untuk tersenyum lebar, menyalakan kembang api, atau menyusun resolusi yang terdengar

RADAR TULUNGAGUNG - Di hari terakhir 2025, Tulungagung tidak berubah menjadi kota yang menuntut perayaan.

Tidak ada keharusan untuk tersenyum lebar, menyalakan kembang api, atau menyusun resolusi yang terdengar meyakinkan.

Kota ini justru membiarkan warganya tetap menjadi manusia lelah, ragu, dan belum sepenuhnya selesai dengan dirinya sendiri.

Baca Juga: Tulungagung dan Malam-Malam Terakhir 2025 yang Tidak Ingin Diingat

Pagi datang seperti biasa. Warung membuka pintu dengan gerak yang sama seperti kemarin. Jalanan tidak sibuk oleh ambisi, hanya oleh orang-orang yang masih berjalan karena hidup memang harus dilanjutkan.

Tidak ada yang bertanya, “Sudah sejauh apa kamu melangkah tahun ini?” Tidak ada papan pengumuman tentang siapa yang berhasil dan siapa yang tertinggal.

Baca Juga: Tulungagung Tidak Menanyakan Apa yang Hilang Tahun Ini, Bumi Ngrowo Justru Memilih untuk Menerima

Di sudut-sudut kota, ada mereka yang memilih diam. Duduk lebih lama dari biasanya, menatap jalan tanpa ingin ke mana-mana.

Ada rasa capek yang tidak bisa dijelaskan dengan kata “kerja”, dan ragu yang tidak selalu berhubungan dengan masa depan.

Tulungagung tidak mengusir perasaan-perasaan itu. Ia membiarkannya tinggal, seperti angin sore yang lewat tanpa perlu diusir.

Baca Juga: Akhir 2025 di Tulungagung Hidup Tetap Jalan Meski Tidak Bertepuk Tangan

Hari terakhir ini bukan tentang menutup buku dengan rapi. Banyak halaman yang masih berantakan, beberapa bahkan sobek.

Namun kota ini tidak memaksa siapa pun untuk merapikannya sekarang. Tidak apa-apa jika belum sanggup memberi makna. Tidak apa-apa jika yang tersisa hanyalah bertahan.

Di Tulungagung, menjadi manusia di hari terakhir tahun berarti diizinkan untuk tidak kuat sepenuhnya.

Untuk mengakui bahwa kita lelah, bahwa kita ragu, dan bahwa sebagian dari kita masih berjalan tertatih. Tidak ada tuntutan untuk tampil utuh. Yang ada hanyalah ruang untuk bernapas.

Malam datang tanpa pengumuman besar. Lampu-lampu menyala seperti biasa. Beberapa orang tidur lebih awal, beberapa lainnya terjaga tanpa alasan jelas. Tahun boleh berganti, tetapi manusia tetaplah manusia dengan segala kekurangannya.

Dan mungkin, itulah bentuk penerimaan paling tulus yang bisa diberikan sebuah kota di hari terakhir tahun membiarkan kita tetap ada, apa adanya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #perayaan #resolusi