RADAR TULUNGAGUNG - Tidak semua orang menutup tahun dengan rasa puas. Tidak semua pencapaian berhasil dicentang, tidak semua rencana berjalan sesuai garis waktu.
Di Tulungagung, penghujung tahun 2025 terasa seperti sore yang mendung tapi tidak mengancam hujan cukup sejuk untuk berhenti sebentar, cukup sunyi untuk mendengar isi kepala sendiri.
Baca Juga: Akhir 2025 di Tulungagung Hidup Tetap Jalan Meski Tidak Bertepuk Tangan
Banyak dari kita sampai di akhir tahun bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai penyintas. Kepala masih penuh, hati masih menyimpan cerita yang belum selesai.
Namun ada satu hal kecil yang terasa berbeda bebannya sedikit berkurang. Bukan karena semua masalah selesai, tapi karena kita belajar menaruhnya dengan lebih rapi.
Di sudut-sudut kota, warung kopi tetap buka tanpa janji perubahan besar. Jalanan tidak menuntut resolusi.
Tulungagung tidak bertanya apa yang gagal atau apa yang tertunda. Kota ini seolah berkata pelan cukup sampai di sini dulu. Dan itu sudah lebih dari cukup.
Baca Juga: Lima Pelajar di Tulungagung Positif Diabetes Melitus, Dinas Kesehatan Ungkap Latar Belakang Mereka
Menutup tahun dengan kepala yang lebih ringan bukan soal melupakan segalanya. Justru tentang memilih mana yang layak dibawa ke esok hari, dan mana yang boleh ditinggal tanpa penyesalan.
Kita tidak harus memaafkan semuanya sekarang, tidak harus kuat sepenuhnya. Mengurangi beban pun sudah sebuah bentuk keberanian.
Tahun ini mungkin tidak memberi kita banyak hal untuk dibanggakan, tetapi ia mengajarkan satu hal sederhana: bertahan juga kerja keras.
Bangun setiap pagi, menjalani hari-hari biasa, dan tetap pulang dengan diri sendiri yang utuh itu bukan hal kecil.
Saat malam terakhir tahun mendekat, tidak ada keharusan untuk merayakan. Di Tulungagung, cukup dengan tidur lebih nyenyak, menarik napas lebih panjang, dan membiarkan kepala terasa sedikit lebih lapang.
Tidak sempurna, memang. Tapi cukup ringan untuk melangkah ke hari berikutnya. Dan barangkali, itu cara paling manusiawi untuk menutup tahun. ****
Editor : Dharaka R. Perdana