Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Melon Hidroponik Dana Desa di Tunggangri Diuji: Perawatan Ketat dan Pendampingan Jadi Kunci Hindari Gagal Panen

Rinto Wahyu Hidayat • Kamis, 8 Januari 2026 | 12:52 WIB

Tanaman melon yang dibudidayakan BUMDes Tunggangri, Kecamatan Kalidawir. (EKO UNTUK RADAR TULUNGAGUNG)
Tanaman melon yang dibudidayakan BUMDes Tunggangri, Kecamatan Kalidawir. (EKO UNTUK RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG
— Program ketahanan pangan berbasis Dana Desa di Desa Tunggangri, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung, terus berjalan.

Khususnya dengan sorotan pada ketelitian perawatan tanaman melon hidroponik berbasis greenhouse yang dikelola BUMDes Srikandi Farm.

Di balik peluang hasil tinggi, sistem ini menyimpan risiko gagal panen jika tidak dikelola secara disiplin.

Ketua BUMDes Srikandi Farm Tunggangri, Eko Siswoyo, menegaskan bahwa hidroponik menempatkan perawatan harian sebagai titik paling krusial.

Seluruh pertumbuhan tanaman bergantung pada keseimbangan pH dan PPM larutan nutrisi yang wajib dipantau setiap hari tanpa jeda.

“Kalau pH dan PPM terlambat dicek atau salah penanganan, dampaknya cepat. Ini risiko utama hidroponik,” ujar Eko.

Menurutnya, indikator kegagalan bisa muncul dari berbagai aspek, mulai ketidakseimbangan nutrisi, gangguan listrik pada sistem sirkulasi air, hingga virus bawaan benih.

Karena itu, BUMDes menerapkan prosedur tegas tanaman yang terindikasi penyakit wajib dicabut hingga ke akar tanpa penggantian.

“Kalau virus dari benih, tidak bisa ditoleransi. Harus dicabut. Kalau dipertahankan, bisa merusak satu greenhouse,” tegasnya.

Di sisi lain, Eko juga menyampaikan pesan tegas kepada pemula yang ingin mengembangkan budidaya melon hidroponik.

Ia mengingatkan agar tidak sekadar mengikuti tren tanpa persiapan matang.

“Hidroponik itu bukan sekadar modern, tapi disiplin. Jangan mulai tanpa pendampingan. Modalnya besar, risikonya juga besar kalau salah langkah,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya memilih mentor yang benar-benar kompeten dan terbuka, memahami teknis perawatan, serta siap mendampingi secara intensif.

Menurutnya, kesalahan memilih pendamping justru berpotensi membuat usaha gagal sejak awal.

“Kalau mau masuk hidroponik, pastikan ada mentor yang paham dan mau mendampingi. Jangan asal ikut tren,” pungkas Eko. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #Melon #bumdes #desa tunggangri