RADAR TULUNGAGUNG - Awal tahun sering datang bersama kata-kata besarmimpi, target, pencapaian. Di banyak tempat, Januari dipenuhi poster motivasi dan janji pada diri sendiri.
Namun di Tulungagung, awal tahun terasa berbeda. Tidak banyak yang sibuk merancang mimpi muluk, karena sebagian besar warga sudah lebih dulu memikul sesuatu yang jauh lebih nyata: tanggung jawab.
Pagi-pagi, jalanan mulai ramai bukan oleh pemburu resolusi, tetapi oleh orang-orang yang berangkat bekerja seperti biasa.
Pedagang membuka lapak tanpa spanduk “awal yang baru”. Petani turun ke sawah tanpa rencana lima tahun.
Orang tua menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, lalu kembali pada rutinitas yang jarang disebut sebagai prestasi.
Di kota ini, tanggung jawab tidak pernah terlihat heroik. Ia hadir dalam bentuk bangun pagi meski lelah, tetap bekerja meski cuaca tidak bersahabat, dan menepati kewajiban meski semangat sedang menipis. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada unggahan. Tapi justru di sanalah kehidupan terus berjalan.
Tulungagung seolah mengajarkan satu hal sederhana: mimpi memang penting, tapi ia rapuh jika tidak ditopang oleh kebiasaan harian.
Berani bermimpi tanpa konsistensi hanya akan berakhir sebagai niat baik yang menua di kalender. Sebaliknya, tanggung jawab yang dijalani setiap hari meski tanpa mimpi besar perlahan membentuk arah.
Banyak orang di sini mungkin tidak pernah menyebut apa mimpi mereka. Namun mereka tahu apa yang harus dilakukan hari ini.
Membayar sekolah anak. Menjaga warung tetap buka. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Hal-hal kecil yang diulang, yang pelan-pelan menjadi fondasi masa depan.
Awal tahun di Tulungagung tidak diperingati dengan teriakan semangat, melainkan dengan ketekunan yang senyap.
Kota ini tidak menolak mimpi, hanya saja ia menempatkannya di belakang tanggung jawab. Karena sebelum bermimpi terlalu jauh, hidup perlu dijalani dengan setia.
Dan mungkin, justru dari tanggung jawab yang konsisten itulah mimpi menemukan jalannya sendiri tanpa perlu dipaksa, tanpa perlu diumumkan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana