JAKARTA - Sejarah Tulungagung terbentang sangat panjang, bahkan jauh sebelum lahirnya kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur. Wilayah ini telah menjadi tempat hunian manusia purba sejak masa prasejarah, ditandai dengan penemuan berbagai artefak arkeologis di kawasan pegunungan selatan. Sejumlah gua seperti Song Terus, Song Gentong, dan Song Banyu Urip menjadi saksi kehidupan manusia nomaden yang menggantungkan hidup dari berburu dan meramu.
Di gua-gua tersebut ditemukan alat batu kapak perimbas, alat serpih, serta sisa tulang binatang buruan. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah Tulungagung telah memilih lokasi strategis dekat sungai dan gua sebagai tempat tinggal sementara. Selain itu, peninggalan dari masa neolitikum dan megalitikum seperti menhir, dolmen, dan sarcofagus juga ditemukan di wilayah Campur Darat dan Kalidawir, menandakan berkembangnya kepercayaan spiritual terhadap roh leluhur.
Pengaruh Kerajaan Hindu-Buddha Awal
Memasuki abad ke-8 Masehi, sejarah Tulungagung mulai bersinggungan dengan pengaruh Kerajaan Kanjuruhan yang berpusat di Malang. Meski pusat kekuasaan tidak berada langsung di Tulungagung, pengaruh budaya dan sistem agrarisnya menjangkau wilayah selatan Sungai Brantas. Sistem irigasi awal dan tradisi keagamaan Hindu Siwa mulai dikenal masyarakat setempat.
Pada abad ke-10, Tulungagung masuk dalam wilayah pengaruh Kerajaan Medang atau Mataram Kuno di bawah pemerintahan Mpu Sindok. Perpindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur menjadikan kawasan Lembah Brantas, termasuk Tulungagung, sebagai daerah strategis pertanian dan jalur distribusi. Bukti tertulis terpenting dari masa ini adalah Prasasti Lawadan di Boyolangu yang menetapkan wilayah tersebut sebagai tanah sima atau perdikan bebas pajak.
Era Kediri hingga Majapahit
Pada masa kejayaan Kerajaan Kediri (abad ke-11 hingga awal abad ke-13), Tulungagung berperan sebagai salah satu lumbung pangan utama kerajaan. Sistem irigasi kuno dan pembagian lahan pertanian memperkuat posisi wilayah ini secara ekonomi. Pengaruh Hindu Siwa semakin kuat dengan ditemukannya arca-arca Ganesa, Siwa, dan Lingga-Yoni.
Peran Tulungagung semakin penting saat era Singhasari dan Majapahit. Sinkretisme agama Siwa-Buddha berkembang pesat, tercermin dari peninggalan arca dan situs pemujaan. Pada masa Majapahit, Tulungagung tidak hanya menjadi daerah penyangga ekonomi, tetapi juga pusat spiritual. Keberadaan Arca Gayatri Rajapatni di Boyolangu menegaskan posisi sakral wilayah ini dalam struktur ideologi Majapahit.
Islamisasi dan Pemerintahan Mataram
Memasuki abad ke-15, proses islamisasi berlangsung secara damai melalui dakwah budaya, perdagangan, dan perkawinan. Tradisi lokal berpadu dengan nilai Islam, melahirkan praktik seperti selametan dan tahlilan. Masjid-masjid tua dan pusat dakwah Islam mulai tumbuh di wilayah Kauman, Ngunut, dan Rejotangan.
Pada abad ke-17, Tulungagung berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram Islam dan dikenal sebagai Kabupaten Ngowo. Sistem pemerintahan adipati, budaya Jawa Islam, serta perkembangan pesantren menjadi ciri utama periode ini yang membentuk karakter sosial masyarakat Tulungagung hingga kini.
Kolonialisme hingga Kemerdekaan
Pada masa kolonial Belanda, Tulungagung mengalami eksploitasi melalui sistem tanam paksa. Meski demikian, pembangunan infrastruktur seperti irigasi dan jalan raya mulai dilakukan. Perubahan nama resmi dari Ngowo menjadi Tulungagung terjadi pada tahun 1901.
Saat masa pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan, Tulungagung menjadi basis perjuangan gerilya. Wilayah perbukitan selatan dimanfaatkan pejuang untuk melawan agresi militer Belanda hingga pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Tulungagung Modern
Pasca kemerdekaan, Tulungagung berkembang sebagai kabupaten agraris, industri marmer, dan pusat budaya. Pada era Orde Baru, daerah ini menjadi lumbung padi Jawa Timur dan produsen marmer nasional. Kini, Tulungagung terus memadukan pembangunan ekonomi dengan pelestarian budaya lokal seperti batik khas, seni tradisional, dan pariwisata berbasis sejarah.Baca Juga: Senyum Tukang Becak Trenggalek Pecah, Presiden Prabowo Salurkan 200 Becak Listrik Gratis untuk Lansia
Editor : Natasha Eka Safrina