Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Tulungagung: Asal-Usul Nama, Hari Jadi, hingga Warisan Budaya Lokal

Dara Shauqy Hadiwijaya • Selasa, 13 Januari 2026 | 18:00 WIB

Sejarah Tulungagung: Asal-Usul Nama, Hari Jadi, hingga Budaya Nyethe
Sejarah Tulungagung: Asal-Usul Nama, Hari Jadi, hingga Budaya Nyethe

TULUNGAGUNGSejarah Tulungagung mencatat perjalanan panjang sebuah wilayah di Jawa Timur yang usianya telah melampaui delapan abad. Kabupaten Tulungagung resmi menetapkan hari jadinya pada 18 November 1205 Masehi, menjadikannya salah satu daerah tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga kini.

Penetapan hari jadi tersebut merujuk pada masa kejayaan Kerajaan Daha (Kadiri). Selain dikenal sebagai daerah penghasil marmer, Tulungagung juga memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

 

Asal-Usul Tulungagung yang Dulunya Bernama Kabupaten Ngrowo

Dalam catatan sejarah, Tulungagung dulunya dikenal dengan nama Kabupaten Ngrowo. Pada masa itu, pusat pemerintahan belum berada di wilayah Kecamatan Tulungagung seperti sekarang, melainkan di Kalangbret.

Pemindahan pusat pemerintahan dari Kalangbret ke wilayah Tulungagung diperkirakan terjadi sebelum tahun 1824. Sementara itu, perubahan nama dari Ngrowo menjadi Tulungagung terjadi sekitar 1901, saat wilayah ini dipimpin oleh Bupati Raden Tumenggung Partowijoyo.

 

Makna Nama Tulungagung dalam Berbagai Versi Sejarah

Tulung Agung sebagai Sumber Air Besar

Versi pertama menyebutkan bahwa nama Tulungagung berasal dari bahasa Sanskerta. Kata “Tulung” berarti sumber air, sedangkan “Agung” berarti besar. Dahulu, wilayah Ngrowo dikenal sebagai daerah rawa yang dipenuhi sumber mata air besar.

Salah satu sumber air besar tersebut diyakini berada di kawasan yang kini menjadi Alun-alun Tulungagung. Dalam cerita rakyat, pengeringan sumber air ini dilakukan dengan bantuan tokoh legendaris Joko Baru, yang kemudian dikenal sebagai Baru Klinting.

Tulungagung sebagai Simbol Pertolongan Besar

Versi lain menyebutkan bahwa Tulungagung bermakna “pitulungan agung” atau pertolongan besar. Konon, saat wilayah Ngrowo hendak ditetapkan sebagai kabupaten, daerah ini memperoleh bantuan wilayah dari daerah sekitar seperti Blitar, Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan.

Besarnya bantuan tersebut kemudian melahirkan sebutan Tulungagung yang digunakan hingga kini.

 

 

Hari Jadi Tulungagung dan Prasasti Lawadan

Hari jadi Kabupaten Tulungagung ditetapkan berdasarkan Prasasti Lawadan, yang mencatat pemberian anugerah dari Raja Kertajaya kepada masyarakat Thani Lawadan di wilayah selatan Tulungagung.

Prasasti tersebut memuat sengkala yang merujuk pada tanggal 18 November 1205 Masehi, sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan masyarakat kepada Kerajaan Daha.

 

Jejak Kerajaan Majapahit di Tulungagung

Sejarah Tulungagung juga memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Majapahit. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan makam Gayatri Rajapatni di Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu.

Gayatri Rajapatni merupakan istri keempat Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, sekaligus ibu dari Tribhuawana Tunggadewi dan nenek Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit. Keberadaan makam ini menegaskan peran penting Tulungagung dalam sejarah Nusantara.

 

Baca Juga: Sidak Menteri UMKM Bongkar Fakta KUR BRI 2026 Tanpa Agunan, Kuota Tak Terbatas dan Bunga Tetap 6 Persen, Benarkah Masih Banyak yang Dipersulit?

 

Dari Kabupaten Ngrowo hingga Tulungagung Modern

Pemerintahan Kabupaten Tulungagung berawal dari periode Ngrowo–Kalangbret, dengan penguasa pertama Kyai Ngabehi Mangundirono. Catatan sejarah yang lebih jelas mulai muncul saat pusat pemerintahan berada di Tulungagung, dipimpin oleh Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat pada periode 1824–1830.

Saat ini, Kabupaten Tulungagung terdiri dari 19 kecamatan, 257 desa, dan 14 kelurahan.

 

Kota Seribu Warung Kopi dan Tradisi Nyethe

Selain sejarahnya yang panjang, Tulungagung juga dikenal dengan julukan Kota Seribu Warung Kopi. Salah satu pusat warung kopi berada di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, dengan warung-warung yang berdiri berdekatan dan memiliki pelanggan setia.

Ciri khasnya adalah kopi ijo Tulungagung, yakni kopi yang digiling bersama kacang hijau sebelum diseduh. Tak hanya itu, masyarakat Tulungagung juga memiliki tradisi unik bernama nyethe, yaitu mengoleskan ampas kopi ke permukaan rokok agar aromanya lebih harum.

Tradisi nyethe bahkan kerap dilombakan dengan membuat berbagai motif di rokok menggunakan ampas kopi.

Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya
#asal usul Tulungagung #kopi ijo tulungagung #sejarah tulungagung #prasasti lawadan #Hari jadi tulungagung