TULUNGAGUNG – Asal usul Tulungagung tidak lahir dari catatan sejarah kaku, melainkan dari rangkaian cerita rakyat yang sarat makna, simbol, dan nilai budaya. Kisah-kisah ini hidup turun-temurun dan diyakini menjadi fondasi identitas masyarakat Tulungagung hingga hari ini.
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, asal usul Tulungagung bermula dari sebuah wilayah berawa luas bernama Ngerawa. Daerah ini digambarkan sebagai hamparan air kehijauan dengan lumpur dalam dan arus tersembunyi yang berbahaya. Setiap musim hujan, rawa tersebut meluap dan merusak ladang serta permukiman warga di sekitarnya.
Rawa Ngerawa dan Sayembara Adipati Betak
Di tepi Ngerawa berdiri sebuah kadipaten yang dipimpin Adipati Betak, sosok penguasa yang dikenal tegas namun peduli pada kesejahteraan rakyat. Ia menyadari bahwa selama rawa tidak dijinakkan, wilayahnya tak akan pernah benar-benar makmur. Maka digelarlah sebuah sayembara besar.
Barang siapa mampu mengeringkan Ngerawa akan diangkat menjadi patih kadipaten. Banyak orang mencoba dengan berbagai cara, mulai dari menggali saluran air hingga membuat bendungan bambu. Namun seluruh usaha itu gagal. Rawa terlalu luas dan sumber airnya seolah tak pernah berhenti memancar dari perut bumi.
Jaka Baru dan Pitulungan Agung
Di tengah keputusasaan, muncul seorang pemuda sederhana bernama Jaka Baru dari lereng Gunung Wilis. Berbekal keyakinan dan restu orang tua, ia meminta izin kepada Adipati Betak untuk mengikuti sayembara. Sebelum bertindak, Jaka Baru pulang menemui ayahnya, Kiai Ageng Mangir, seorang sesepuh bijak yang memahami rahasia alam.
Dari sang ayah, Jaka Baru menerima segenggam ijuk dan sebatang lidi aren. Dengan doa dan ketulusan, ia menyusuri Ngerawa hingga menemukan sumber utama air. Ijuk digunakan untuk menyumbat mata air, sementara lidi ditancapkan sebagai penanda niat. Dalam cerita rakyat, saat itulah keajaiban terjadi: aliran air melemah, rawa perlahan mengering, dan tanah kembali muncul ke permukaan.
Keberhasilan itu disebut Adipati Betak sebagai pitulungan agung, atau pertolongan besar bagi seluruh rakyat. Dari peristiwa inilah nama Tulungagung dipercaya berasal, sebagai pengingat atas bantuan besar yang mengubah nasib sebuah wilayah.
Sungai Lembu Peteng dan Pengorbanan Ksatria
Asal usul Tulungagung juga berkaitan dengan legenda Sungai Lembu Peteng. Sungai ini diyakini menjadi saksi gugurnya seorang pangeran Majapahit bernama Lembu Peteng, murid setia Kiai Pacet. Dalam kisahnya, Lembu Peteng tewas saat melindungi sang guru dari serangan musuh.
Jasad sang pangeran dihanyutkan ke sungai, dan sejak saat itu aliran air tersebut dikenal dengan namanya. Sungai Lembu Peteng menjadi simbol kesetiaan, pengorbanan, dan keberanian yang terus dikenang masyarakat.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Fluktuatif, Profit Taking dan Isu MSCI Jadi Sorotan
Kalangbret dan Jejak Pelarian Adipati Kalang
Legenda lain yang memperkaya asal usul Tulungagung adalah kisah Adipati Kalang, tokoh antagonis yang membunuh Lembu Peteng karena iri dan ambisi. Setelah kejahatannya terbongkar, ia melarikan diri dari kejaran pasukan Gajah Mada.
Pelarian itu meninggalkan jejak nama tempat yang masih dikenal hingga kini. Batangsaren diyakini berasal dari tombak yang patah saat pelarian, Kalisong merujuk pada sungai tempat Adipati Kalang berpegangan agar tak hanyut, dan Kalangbret menjadi lokasi akhir penangkapannya.
Warisan Budaya, Bukan Sejarah Tertulis
Meski sarat tokoh besar dan peristiwa dramatis, kisah-kisah ini diakui sebagai legenda, bukan sejarah tertulis. Namun bagi masyarakat, cerita rakyat tentang asal usul Tulungagung tetap memiliki nilai penting sebagai warisan budaya dan sarana penanaman nilai moral.
Dari keberanian Jaka Baru, kesetiaan Lembu Peteng, hingga kejatuhan Adipati Kalang, seluruh legenda tersebut membentuk mosaik cerita yang membuat nama Tulungagung tidak sekadar penanda wilayah, melainkan simbol perjalanan panjang sebuah tanah dan manusianya.
Editor : Natasha Eka Safrina