TULUNGAGUNG - Gunung Budheg Tulungagung dikenal sebagai salah satu destinasi alam sekaligus situs sejarah yang sarat nilai budaya. Berada hanya sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Tulungagung, Gunung Budheg menjadi gunung api purba yang letaknya paling dekat dengan kawasan perkotaan. Keunikan ini menjadikannya primadona bagi pecinta alam, peneliti, hingga masyarakat yang tertarik pada sejarah dan spiritualitas Jawa.
Gunung Budheg, Gunung Api Purba di Tengah Kota
Gunung Budheg merupakan gunung api purba yang terbentuk sekitar 30 juta tahun lalu akibat patahan lempeng bumi di dasar laut selatan Jawa. Menurut kajian geologi, material penyusunnya didominasi batuan breksi piroklastik yang terbentuk dari aktivitas vulkanik purba. Meski kini berstatus tidak aktif, keberadaan Gunung Budheg memiliki peran penting dalam bentang alam Tulungagung.
Secara geografis, Gunung Budheg berada tepat di garis imajiner antara Pantai Selatan dan pusat pemerintahan Kabupaten Tulungagung. Posisi ini diyakini bukan kebetulan, melainkan bagian dari konsep tata ruang tradisional Jawa yang memperhitungkan keseimbangan alam dan spiritual.
Jejak Sejarah dari Era Megalitikum hingga Majapahit
Sejarah Gunung Budheg tercatat panjang. Pada masa Megalitikum, kawasan ini dipercaya sebagai tempat pemujaan, ditandai dengan keberadaan menhir yang dikenal sebagai Watu Joko Budheg. Batu ini diyakini sebagai simbol perwujudan manusia dalam tradisi kepercayaan masyarakat Jawa kuno.
Memasuki era Kerajaan Kediri hingga Majapahit, Gunung Budheg dikenal sebagai tanah wingit atau sakral. Tempat ini kerap digunakan sebagai lokasi pertapaan tokoh-tokoh penting. Salah satu legenda yang paling dikenal adalah kisah Joko Budheg dan Roro Kembang Sore, yang masih memiliki benang merah dengan cerita rakyat Tulungagung.
Makam Tokoh Mataram Islam di Lereng Gunung Budheg
Di kawasan selatan Gunung Budheg terdapat makam Raden Tumenggung Surontani Kertoyudo, tokoh penting yang memiliki garis keturunan langsung dengan pendiri Mataram Islam, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani. Keberadaan makam ini memperkuat posisi Gunung Budheg sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi.
Peran Gunung Budheg dalam Mitigasi Alam
Selain nilai sejarah, Gunung Budheg juga diyakini berperan sebagai penyeimbang alam. Letaknya di tengah wilayah Tulungagung disebut-sebut membantu meredam dampak getaran gempa dari zona subduksi di selatan Jawa. Hingga kini, Tulungagung relatif minim terdampak gempa besar dibanding wilayah lain yang langsung berbatasan dengan laut.
Upaya Pelestarian Gunung Budheg
Pelestarian Gunung Budheg tidak lepas dari peran masyarakat, salah satunya Agus Utomo, relawan dan pemerhati lingkungan yang telah lebih dari 20 tahun merawat kawasan ini. Sejak awal 2000-an, Agus Utomo melakukan penanaman kembali secara mandiri untuk mencegah longsor dan kerusakan lingkungan.
Berkat upaya konservasi tersebut, tutupan vegetasi Gunung Budheg kini meningkat signifikan dan kawasan ini menjadi lebih aman bagi masyarakat sekitar. Hingga saat ini, ribuan pendaki tercatat telah mengunjungi Gunung Budheg tanpa insiden besar.
Destinasi Edukasi, Sejarah, dan Wisata Alam
Dengan perpaduan nilai geologi, sejarah, budaya, dan lingkungan, Gunung Budheg Tulungagung memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukasi. Keberadaannya bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Editor : Dara Shauqy Hadiwijaya