TULUNGAGUNG - Legenda Kyai Pacet menjadi salah satu kisah rakyat yang hidup turun-temurun di wilayah Tulungagung dan sekitarnya. Cerita yang berlatar zaman Kerajaan Majapahit ini tidak hanya sarat unsur spiritual dan kesaktian, tetapi juga dipercaya menjelaskan asal-usul sejumlah nama desa yang masih dikenal hingga kini. Legenda Kyai Pacet kembali menarik perhatian publik setelah diangkat dalam sebuah video YouTube bertema babad Tulungagung.
Dalam legenda Kyai Pacet, diceritakan bahwa pada masa Majapahit, di Dukuh Bonorowo berdiri sebuah perguruan ilmu kanuragan yang dipimpin Kyai Pacet, seorang tokoh sakti dengan banyak murid. Beberapa murid yang disebutkan antara lain Pangeran Kalang, Pangeran Bedalem, Kyai Kasan Besari, Kyai Singo Taruno, Kyai Sedang, serta Pangeran Lembu Peteng. Perguruan ini menjadi pusat pendidikan spiritual dan kesaktian pada masanya.
Konflik dalam legenda Kyai Pacet bermula ketika Kyai Pacet mengungkapkan kekecewaannya karena ada murid yang mendirikan perguruan sendiri tanpa izin. Ucapan tersebut membuat Kyai Kasan Besari merasa tersinggung. Tanpa pamit, ia meninggalkan perguruan dan pergi ke hutan dalam kondisi amarah yang memuncak.
Awal Perselisihan Kyai Pacet dan Kyai Kasan Besari
Kepergian Kyai Kasan Besari membuat Kyai Pacet khawatir. Ia kemudian mengutus dua muridnya, Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem, untuk membujuk Kyai Kasan Besari agar kembali ke Bonorowo. Sementara itu, Kyai Pacet memutuskan bertapa di sebuah goa untuk mencari petunjuk. Tugas menjaga pertapaan diserahkan kepada Pangeran Lembu Peteng.
Namun, upaya damai tidak berjalan mulus. Pangeran Bedalem memilih tidak ikut campur dan memutuskan pulang ke Kadipaten Betak. Sebaliknya, Pangeran Kalang justru menghasut Kyai Kasan Besari agar melawan Kyai Pacet. Kesepakatan pun tercapai, dan keduanya diam-diam menuju goa tempat Kyai Pacet bertapa.
Goa Pertapaan dan Keris Kyai Redup
Saat Kyai Kasan Besari dan Pangeran Kalang memasuki goa, mereka terkejut karena berjumpa seekor singa penjaga. Kyai Pacet kemudian memanggil Pangeran Lembu Peteng untuk melaporkan situasi di luar. Dari suara gemuruh yang terdengar, Kyai Pacet mendapatkan pertanda gaib.
Baca Juga: Sejarah Tulungagung: Asal-Usul Nama, Hari Jadi, hingga Warisan Budaya Lokal
Dalam pertapaannya, Kyai Pacet memunculkan cahaya yang berubah menjadi sebuah keris sakti bernama Kyai Redup. Konon, wilayah sekitar tempat pertapaan itu kemudian dikenal sebagai Desa Kledung. Dari sinilah babak penentuan dalam legenda Kyai Pacet dimulai.
Adu Kesaktian dan Asal-Usul Nama Desa
Pertarungan antara Kyai Pacet dan Kyai Kasan Besari tak terelakkan. Keduanya mempertontonkan ilmu kanuragan tingkat tinggi. Kyai Kasan Besari membanting buah kemiri yang berubah menjadi harimau raksasa, sementara Kyai Pacet membanting bongkahan tanah yang menjelma menjadi ular besar.
Pertarungan berlangsung sengit. Harimau jelmaan Kyai Kasan Besari akhirnya kalah dan melarikan diri. Lokasi pertempuran tersebut diyakini masyarakat sebagai cikal bakal nama Desa Macan Tablet. Kisah ini kemudian menjadi bagian penting dalam babad Tulungagung yang diwariskan secara lisan.
Legenda Kyai Pacet bukan sekadar cerita adu kesaktian, melainkan juga refleksi nilai kesetiaan murid kepada guru, serta peringatan tentang dampak dari kesombongan dan pengkhianatan. Hingga kini, kisah ini masih dipercaya sebagai bagian dari identitas sejarah dan budaya masyarakat Tulungagung.