TULUNGAGUNG – Asal-usul Tulungagung kembali menjadi perbincangan menarik setelah kisah tutur leluhur disampaikan Sucipto, tokoh spiritual sekaligus pembina paguyuban kebatinan di Tulungagung. Cerita ini diturunkan secara lisan dari kakeknya, yang disebut-sebut menjadi salah satu pendatang awal ketika wilayah Tulungagung masih berupa hutan dan hanya dihuni segelintir keluarga.
Menurut Sucipto, asal-usul Tulungagung tak bisa dilepaskan dari sejarah Kabupaten Growo, nama awal daerah ini sebelum berubah menjadi Tulungagung. Kala itu, pemerintahan belum tertata rapi, bahkan jumlah rumah masih bisa dihitung dengan jari. Kakeknya bercerita, ia datang dari wilayah Kartasura, Solo, yang merupakan bagian dari trah Mataram Islam setelah peristiwa Geger Kartasura.
Dari Kabupaten Growo ke Tulungagung
Dalam kisah turun-temurun tersebut, Kabupaten Growo dipimpin oleh seorang bupati pertama bernama Raden Ngabehi Mangundirojo, yang dikenal juga sebagai Ndoro Kliwon. Ia disebut berasal dari Desa Banaran, Kecamatan Kauman. Makamnya hingga kini diyakini berada di wilayah tersebut dan kerap diziarahi masyarakat.
Baca Juga: Jejak Kiai Abu Mansur dalam Sejarah Lahirnya Kabupaten Tulungagung
“Awalnya pusat pemerintahan ada di barat sungai. Baru setelah bupati keempat, pusat pemerintahan pindah ke timur sungai, di lokasi Pendopo Tulungagung sekarang,” ujar Sucipto. Dari sinilah, Kabupaten Growo perlahan berkembang hingga akhirnya mengalami perubahan nama.
Perubahan penting terjadi pada tahun 1901 Masehi. Berdasarkan cerita yang diterima Sucipto, bupati ke-11 bernama Raden Partowijoyo resmi mengganti nama Kabupaten Growo menjadi Tulungagung melalui keputusan pemerintah kolonial Belanda. Sejak saat itu, nama Tulungagung digunakan hingga kini dan menjadi identitas daerah.
Jejak Majapahit dan Mataram
Asal-usul Tulungagung juga dikaitkan dengan jejak kerajaan besar Nusantara. Meski secara garis keturunan kuat dengan Mataram, wilayah Tulungagung diyakini memiliki keterkaitan dengan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan keberadaan situs-situs bersejarah seperti Candi Gayatri di Boyolangu dan sejumlah bangunan bercorak Majapahit di wilayah Gunung Budeg dan Sanggrahan.Baca Juga: Legenda Kyai Pacet dari Zaman Majapahit, Kisah Adu Kesaktian yang Menguak Asal-Usul Desa di Tulungagung
“Candi Gayatri itu bukti bahwa wilayah Tulungagung pernah bersentuhan langsung dengan Majapahit,” kata Sucipto. Menurutnya, akulturasi budaya Hindu, Buddha, dan Islam terlihat jelas dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat.
Punden dan Penghormatan Leluhur
Dalam tradisi lokal, masyarakat Tulungagung mengenal istilah punden atau pepunden. Punden merupakan makam para cikal bakal desa atau tokoh leluhur yang dihormati. Berbeda dengan danyang yang kerap disalahartikan sebagai makhluk gaib penjaga desa, punden memiliki identitas jelas sebagai tempat peristirahatan tokoh sejarah.
Beberapa punden dianggap sakral dan sering dikunjungi, termasuk makam para bupati Tulungagung yang berada di Desa Wajak. Tradisi ziarah ini menjadi bagian dari cara masyarakat menghormati leluhur sekaligus menjaga keseimbangan spiritual.
Kepercayaan Spiritual Leluhur
Sebelum agama-agama resmi berkembang, masyarakat Tulungagung mengenal kepercayaan spiritual yang disebut kapitayan. Kepercayaan ini menekankan hubungan langsung manusia dengan Sang Maha Pencipta tanpa ritual baku, waktu khusus, maupun perlengkapan tertentu.
“Yang terpenting itu hati. Posisi tubuh bebas, bisa duduk, berdiri, atau berjalan. Intinya tafakur dan ingat kepada Tuhan,” jelas Sucipto. Tradisi ini kemudian membaur dengan agama-agama yang datang, seperti Hindu, Buddha, dan Islam.
Dalam ritual tertentu seperti Suronan atau peringatan kelahiran, masyarakat menggunakan simbol-simbol tradisional seperti buceng mas, jenang abang-putih, dan tumpeng. Semua memiliki makna filosofis tentang asal-usul kehidupan, penghormatan leluhur, dan rasa syukur atas karunia Tuhan.
Mitos, Magis, dan Stigma
Tulungagung kerap dikenal dengan stigma sebagai daerah yang lekat dengan ilmu magis. Namun Sucipto menegaskan, kemampuan spiritual tidak identik dengan praktik negatif. “Dukun itu sebenarnya orang yang ngerti duduknya hidup, ngerti ketuhanan. Kalau paham itu, orang tidak akan galak atau menyimpang,” katanya.
Kisah asal-usul Tulungagung ini memang bersifat tutur lisan, bukan catatan sejarah resmi. Namun di balik itu, tersimpan nilai budaya, spiritualitas, dan identitas lokal yang masih hidup hingga sekarang.
Editor : Natasha Eka Safrina